
Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta. Semoga Allah bershalawat, memberi keselamatan dan keberkahan kepada Nabi Kita Muhammad e, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Amma Ba’du
Sesungguhnya diantara keistimewaan agama kita ini adalah kepeduliannya terhadap kemuliaan dan keluhuran akhlak. Nabi e bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَ خْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan keshalehan akhlak.” (HR. Ahmad)
Tatkala Nabi diutus, beliau mengakui dan menetapkan akhlak-akhlak baik yang terdapat pada masyarakat jahiliyah, dan membuang akhlak buruk yang ada pada mereka, serta memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.
Diantara akhlak mulia yang menjadi perhiasan orang-orang jahiliyah adalah kecemburuan seorang laki-laki terhadap wanita-wanita mahramnya. Sebagian mereka bahkan berlebihan dalam masalah ini, hingga tega mengubur putrinya hidup-hidup karena takut terjerumus dalam perbuatan nista apabila telah tumbuh dewasa. Maka Allah mengharamkan perbuatan ini dan melestarikan unsur kecemburuannya dengan menjadikannya sebagai salah satu cabang iman. Rasulullah e bersabda:
لاَ شَيْءَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ
“Tidak ada sesuatu apapun yang lebih cemburu daripada Allah.” (HR. Ahmad dan Bukhari)
Nabi e bersabda:
إنَّ اللهَ يَغَارُ وَإِنَّ اْلمُؤْمِنِيْنَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ اْلمُؤْمِنِيْنِ مَا حَرَّمَ اللهُ
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang mukmin itu (juga) cemburu. Dan kecemburuan Allah itu adalah apabila seorang mukmin melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim)
Dan tatkala terjadi gerhana matahari, didalam khutbahnya beliau bersabda:
يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ
“Wahai ummat Muhammad, tidak ada seorangpun yang lebih cemburu daripada Allah.” (HR. Bukhari – Muslim)
Nabi e bersabda:
إِنَّ مِنْ غَيْرَةِ اللهِ مَا يُحِبُّ اللهُ ...
“Sesungguhnya diantara bagian dari kecemburuan Allah adalah (melakukan) apa yang dicintai Allah …” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)
Dan ketika Sa’ad Ibn Ubadah t berkata: “Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku tentu aku menebasnya dengan pedang, tidak dengan lempengannya (tetapi dengan mata pedang yang tajam)”, maka Nabi e bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’ad?! Sesungguhnya aku lebih cemburu dari dia dan Allah lebih cemburu daripada aku.” (HR. Bukhari – Muslim)
Para sahabat Nabi telah berhias dan memegang erat-erat akhlak Nabawi ini. Akhlak ini kedudukannya sama dengan kewajiban-kewajiban dan cabang-cabang iman lainnya. Maka bukan suatu hal yang aneh apabila seorang dari mereka membunuh atau dibunuh dalam rangka menjaga dan mempertahankan akhlak ini. Ibn Hisyam meriwayatkan bahwa ada seorang wanita dari bangsa Arab membawa barang dagangannya untuk dijual dipasar Bani Qainuqa’ (salah satu kabilah Yahudi di Madinah). Wanita itu mendatangi tukang perhiasan (emas dan perak) dan duduk disana. Orang-orang Yahudi bermaksud menyingkap wajahnya tetapi wanita itu menolak. Maka tukang perhiasan itu diam-diam mengikat ujung pakaian wanita itu pada punggungnya. Tentu saja tatkala wanita itu berdiri tersingkaplah auratnya. Maka wanita itu berteriak, dan segera saja seorang laki-laki muslim melompat menindih si tukang perhiasan dan membunuhnya. Akibatnya orang-orang Yahudi mengeroyok beramai-ramai dan membunuhnya, maka Nabi e berangkat dengan pasukannya mengepung kampung Bani Qainuqa’ hingga mereka menyerah dan tunduk kepada hukum Nabi e. Maka Nabi e mengusir mereka ke Negeri Syam.
Diatas landasan akhlak ini para salaf telah berlalu, orang-orang muslim tidak pernah meninggalkannya atau meremehkannya, meskipun dalam masa-masa lemah. Ketika kaum Salibis menjajah dan menindas sebagian negeri Islam di Syam, dan penjajahan itu berlangsung selama hampir dua abad, yaitu rentang zaman yang memberikan anggapan kepada sebagian kaum muslimin yang berjiwa lemah bahwa kaum salibis itu kekal disana hingga kedatangan Isa Ibn Maryam u, pada masa itu ternyata para ahli sejarah mencatat bahwa kaum muslimin memandang kepada kaum Nashrani dengan pandangan hina dan nista dan bahwasannya mereka itu adalah “Para Dayyuts” (orang-orang yang mati kecemburuannya, sehingggga salah seorang mereka tatkala berjalan bersama istrinya, ditengah jalan istrinya bertemu dengan salah seorang laki-laki yang menjadi temannya, lalu sang suami menyingkir untuk memberikan kesempatan kepada istrinya agar bebas bercengkrama dengan laki-laki tersebut)
BEBERAPA BENTUK TERKIKISNYA RASA CEMBURU
Kami berada di negeri kami ini (Saudi Arabia) –semoga Allah memakmurkannya dengan ketaatan- senantiasa dalam kebaikan dalam masalah ini. Meskipun sebagian orang telah mengabaikan akhlak yang mulia ini.
Sehingga kamu bisa melihat ada oang yang berada dalam mobilnya lalu istrinya turun dan berbicara (dengan orang lain) cukup lama, padahal yang paling utama adalah ia harus turun menyertai istrinya.
Kamu lihat istri salah seorang mereka bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya, berduaan dengan sopir dalam mobil, dengan penjual di toko, dengan dokter di tempat prakteknya atau yang lainnya. Semua ini tidak ada beban bagi dia. Padahal Nabi e bersabda:
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Ingatlah tidak sekali-kali ada seorang laki-laki yang berduaan dengan seorang wanita melainkan setanlah yang menjadi orang ketiganya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Termasuk bentuk terkikisnya rasa cemburu adalah orang laki-laki yang membiarkan istri atau wanita yang menjadi tanggung jawabnya memakai pakaian-pakaian –ketika keluar rumah- yang menampakkan sebagian badannya atau menonjolkan bentuk aurat dan warna kulitnya.
Juga keluarnya seorang laki-laki dengan istrinya menuju tempat-tempat umum atau pertemuan umum yang sangat memungkinkan ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan) atau yang istrinya menjadi sorotan pandangan.
Termasuk bentuk tipisnya rasa cemburu yang ada pada laki-laki adalah membiarkan istrinya melakukan perjalanan jauh (safar) tanpa disertai oleh seorang mahramnya. Rasulullah e bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ وَلاَ تُسَافِرُ اْلمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Jangan sekali-kali ada seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan seorang wanita melainkan dia disertai oleh mahramnya, dan janganlah seorang wanita itu melakukan safar kecuali bersama dengan mahramnya.”
Maka seorang laki-laki berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya istri saya pergi haji dan saya sendiri telah diwajibkan ikut dalam peperangan ini dan ini.” Maka beliau bersabda:
انْطَلِقْ فَحَجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Berangkatlah, hajilah bersama istrimu.” (HR. Bukhari – Muslim)
coba renungkan, seorang mujahid fi sabilillah diperintahkan oleh Nabi e untuk membatalkan perang fi sabilillah hanya untuk menyertai istrinya yang sedang keluar dalam perjalanan mulia yaitu haji, padahal dalam perang itu ia menyertai orang yang paling mulia dan takwa (yaitu Nabi e) dan lagi istrinya telah berangkat pergi. Meskipun demikian Rasulullah e bersabda: “Berangkatlah, pergilah haji bersama istrimu.”
FAKTOR PENGIKIS RASA CEMBURU
Gambaran-gambaran diatas adalah ilustrasi riil dari kondisi yang ada. Namun demikian fenomena yang ada –alhamdulillah- masih mengarah kepada penjagaan terhadap kehormatan dan kecemburuan atasnya. Lalu apa yang membuat sebagian orang mengalami krisis rasa cemburu dan malu? Sebelum kita mendalaminya ada baiknya manakala kita membahas terlebih dahulu kedudukan rasa malu dalam Islam.
Malu
Malu adalah satu cabang dari cabang-cabang iman sebagaimana hal itu datang dalam hadits Nabi e. Maka barangsiapa sedikit rasa malunya berkuranglah keimanannya. Didalam shahih Bukhari dan Muslim Rasulullah e bersabda:
الحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidak datang melainkan dengan membawa kebaikan.”
Dan dalam satu riwayat Muslim:
الحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ , أَوْ قَالَ : كُلُّهُ خَيْرٌ
“Rasa malu itu baik semuanya.” Atau beliau bersabda: “Semuanya adalah baik.”
Dan diriwayatkan dari Salman al-Farisi dia berkata:
إِنَّ اللهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ هَلاَكًا نَزَعَ مِنْهُ اْلحَيَاءَ فَإِذَا نُزِعَ مِنْهُ الْحَيَاءُ لَمْ يَلْقَهُ إِلاَّ مَقِيْتًا مُمَقَّتًا
“Sesungguhnya Allah itu apabila Dia menghendaki kehancuran bagi seorang hamba Dia mencabut rasa malu dari dirinya. Maka apabila rasa malu telah tercabut daripadanya maka ia tidak menemui Allah melainkan dalam keadaan terlaknat lagi dimurkai.”
Seorang penyair berkata:
فَلاَ وَاللهِ مَا فِيْ اْلعِيْشِ خَيْرٌ وَلاَ الدُّنْيَا إِذَا ذَهَبَ الْحَيَاءُ
يَعِيْشُ اْلمَرْءُ مَا اسْتَحْيَا بِخَيْرٍ وَيَبْقَى اْلعُوْدُ مَا بَقِيَ اللِّحَاءُ
“Maka demi Allah, tidak ada lagi kebaikan dalam kehidupan dan dalam dunia ini manakala rasa malu telah pergi.”
“Orang itu akan hidup dengan baik selagi memiliki rasa malu (sebagaimana) ranting kayu itu akan lestari manakala kulit pembungkusnya masih abadi.”
Penyair lain bersenandung:
أَنْ كَأَنِّيْ أَرَى مَنْ لاَ حَيَاءَ لَهُ وَلاَ أَمَانَةَ وَسْطَ النَّاسِ عُرْيَانًا
“Sesungguhnya aku melihat bahwa orang yang tidak memiliki rasa malu dan tidak (pula) amanah itu (ibarat) orang telanjang ditengah-tengah manusia.”
Rendahnya rasa malu (terutama pada wanita) itu disebabkan oleh banyak faktor, antara lain:
1. Tidak mendidiknya secara serius semenjak kecil, karena orang yang telah terbiasa melakukan sesuatu pada masa mudanya akan terbawa terus hingga masa tuanya.
إِنَّ الْغُصُوْنَ إِذَا قَوِّمْتَهَا اِعْتَدَلَتْ وَلاَ تَلِيْنُ إِذَا كَانَتْ مِنَ الْخَشَبِ
“Sesungguhnya ranting-ranting itu akan tegak lurus manakala kamu luruskan, namun tidak akan bisa diluruskan manakala sudah jadi kayu.”
2. Seringnya wanita bergaul dan berbincang-bindang dengan laki-laki ajnabi (yang bukan mahramnya)
3. Seringnya berhubungan dengan orang yang memiliki sedikit rasa malu atau seringnya melihat mereka. Apakah hal itu akibat melancong keluar negeri atau melihat mereka di pasar, pusat-pusat perbelanjaan atau tempat wisata, atau menonton mereka dalam sinetron, telenovela, film seri atau sejenisnya, karena akhlak itu –yang baik dan yang buruk- bisa diperoleh dengan cara bergaul dan berhubungan.
4. Barangkali faktor terpenting adalah seringnya dan banyaknya wanita yang keluar rumah. Allah I berfirman:
] وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ [
“Dan berdiam dirilah kamu dirumah-rumah kamu.” (Al-Ahzab: 33)
Nabi e bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ وَإِنَّهَا لاَ تَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَي اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا
“Wanita itu adalah aurat. Sesungguhnya apabila ia keluar dari rumahnya ia dibuntuti oleh setan. Dan sesungguhnya dia tidak lebih dekat kepada Allah daripada (ketika) dia berada dalam tengah-tengah rumahnya.”
Nabi e bersabda:
لاَ تَمْنَعُوْا نِسَـاءَكُمْ اْلمَسـَاجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
“Janganlah kamu melarang istri-istrimu dari masjid, sedangkan rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Al-Hafidz al-Dimyathi رحمه الله berkata: “Ibnu Khuzaimah dan para ulama telah mengatakan bahwa shalat wanita di rumahnya itu lebih baik daripada shalatnya di Masjid, meskipun masjid Makkah, Madinah atau masjid al-Aqsha (Bait al-Muqaddas).”
Dan hendaklah orang-orang yang cerdik berakal itu menyadari bahwa kerusakan yang telah melanda sebagian negeri-negeri Islam itu, seperti dekadensi moral dan budaya keji, tidaklah terjadi sekaligus, akan tetapi hal itu bermula dari hal yang sederhana hingga berakhir pada apa yang ada sekarang. Maka waspada dan berhati-hatilah!
Sesudah itu semua, wahai saudara muslim! Buktikanlah syahadatmu, kesaksianmu bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah dengan cara kamu mempercayainya dalan semua yang beliau kabarkan, kamu mentaatinya dalam semua yang beliau perintahkan dan kamu menjauhi semua yang telah beliau larang. Hati-hatilah jangan sampai kamu menyalahi perintahnya karena mengikuti hawa nafsu atau karena pengaruh seseorang atau karena sebab-sebab lain. Allah I berfirman:
] فَلْيَحْذَرِ الَّذيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةً أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ [
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)
by aldakwah.com
Download Qur'an
Download e-book Tarbiyah
Artikel dari Ikhwah
-
Aam Amirudin: Setelah Terjun ke Politik, Gerakan Tarbiah Lebih Terbuka - Setelah terjun ke dunia politik, aktivis gerakan Tarbiah dinilai telah mengalami transformasi identitas yang progresif. Bila sebelumnya aktivis gerakan Tar...1 hari yang lalu
-
Di Kotai & Beswok pula ^^ - بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Harini dah 2 November! Asif jiddan, baru berkesempatan nak update :) 17 Oktober 2009- Ana bersama...6 hari yang lalu
-
raya lagi - Hari Raya Puasa merupakan perayaan yang dirayakan diseluruh dunia bagi menandakan berakhirnya bulan puasa Ramadan di mana umat Islam akan berpuasa dan beri...1 minggu yang lalu
-
Isu Niqab Di Mesir.. - Subhanallah..wAlhamdulillah..waLaailahaillah,wAllahu Akhbar! Banyak dugaan sungguh setelah ana berhijrah..Bersama teman-teman senior..Petang tu, lepas kelas....2 minggu yang lalu
Cemburu dan malu
Diposkan oleh
Nasyid for dakwah
di
09:51
0
komentar
Bersatulah, Jangan Seperti Orang-Orang yang Bercerai-Berai
.jpg)
dakwatuna.com – Segala Puji hanya bagi Allah Rabb Semesta Alam. Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW.
Paling agungnya nikmat dalam kebersamaan adalah bahwa adanya penyatuan hati dan ikatan hati di antara kita. Dan paling buruknya nikmat dalam suatu hidup kebersamaan adalah perpecahan dan bercerai-berai. Di sana banyak hadits dalam ilmu psikologis dan ilmu jiwa apa saja yang menyebabkan timbulnya perpecahan. Dan mereka telah meletakkan berbagai macam pemecahan untuk itu. Dan ketika kita melihat Al-Qur’an kita menemukan ini dalam suatu ayat. Itulah keadaan Al-Qur’an sebagai suatu mukjizat, ia mendatangkan dari berita yang besar dalam suatu kalimat efektif.
Allah SWT menyebutkan dari umat terdahulu yang telah mendahului kita. Mereka adalah kaum Nasrani, mereka mengikuti nabi Isa AS, lalu terjadi masalah besar dalam agama mereka. Itulah yang menyebabkan perpecahan dalam diri mereka. Dan ayat menggambarkan kondisi manusia. Hal ini berulang-ulang, dan menyebabkan pengulangan dalam setiap kejadian, di setiap zaman dan tempat, di setiap pertemuan, dan di setiap kebersamaan, terutama dalam setiap perkumpulan karena Allah SWT. Allah berfirman,
وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ
“Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami ini orang-orang Nasrani”, Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah: 14)
Inilah pondasi utama dalam setiap kita berkumpul dan bersama. Kenapa Allah SWT menyebutkan ini dalam ayat ini? Agar tidak terjadi hal yang sama. Dan Allah menyebutkan kapan terjadinya.
Dalam suatu kitab dikatakan bahwa di antara orang Nasrani, Allah SWT telah mengambil perjanjian di antara mereka. Mengambil perjanjian di sini maksudnya adalah orang itu mengenal atau mempunyai ilmu terhadap ajaran Allah SWT. Dan dia telah mengetahui tentang kewajiban terhadap Allah SWT serta mengetahui kewajiban dakwah. Dia telah mengetahui tentang sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya. Setiap apa yang kau ketahui itu sudah merupakan perjanjian terhadap Allah SWT. Dan di hari kiamat setiap orang akan ditanya tentang apa yang diketahui.
كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
“Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya (neraka), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu?” (QS. Al-Mulk: 8 )
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
“… Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS. Muhammad: 19)
Dan siapa yang tidak ikut terhadap Rasul padahal telah jelas kepadanya petunjuk? Barang siapa yang telah jelas kepadanya petunjuk tapi ia tidak komitmen kepada petunjuk tersebut, maka Allah akan menagih perjanjian itu.
Lalu apa yang terjadi? Terjadi bahwa sebagian jiwa manusia: LUPA. Melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Lupa mengandung dua makna dalam Al-Qur’an.
Makna pertama adalah tidak adanya ilmu. Seperti dalam surat Al-Kahfi bahwa sesungguhnya syaitan telah membuatnya lupa (QS. 18: 63). Inilah tidak adanya ilmu. Makna lupa yang kedua adalah meninggalkannya. Inilah yang dimaksud dengan yang di surat Al Maidah ayat 14 di atas. Maka barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang telah diketahuinya, itulah lupa. Seperti dalam suatu ayat,
نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ
“Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula).” (QS. At-Taubah: 67)
Mereka meninggalkan ajaran Allah, mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah, dan mereka melalaikan perintah Allah. Kaum Bani Israil, mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Dikatakan dalam suatu ayat:
وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ
“dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan (hazhzhan) yang telah diperingatkan kepada mereka (dzukkiruu bihi)” (QS. Al-Maidah: 13)
“Hazhzhan”. Apa itu hazhzhan? Hazhzhan artinya adalah sebagian atau bagian kecil. Allah menjelaskan bahwa mereka telah meninggalkan sebagian kecil dari ajaran yang telah diingatkan kepada mereka. Inilah sebab terjadinya persatuan dan di sinilah sebab terjadinya perpecahan. Jadi ketika telah meninggalkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada mereka, maka di sini sebab timbulnya perpecahan. Terutama dalam masalah-masalah besar yang menyangkut masalah pondasi agama, serta pegangan prinsip agama.
Allah SWT berfirman:
فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ
“… maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka …” (QS. Al-Maidah: 14)
Apa artinya أَغْرَيْنَا ? Apa artinya al-ighra? Al-Ighra artinya mendorong ulang. Artinya bahwa permusuhan menjadi sesuatu yang dia sukai. Maka dia menjadikan perpecahan itu sebagai sesuatu yang dia senangi. Apa sebabnya? Karena mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diingatkan dari Allah SWT kepada mereka. Inilah ringkasan dari seluruh persoalan.
Bukan berarti kita meninggalkan persoalan lain tapi ini masalah utama. Ketika kita ingin istiqamah dan kita ingin persatuan yang kuat dan kebersamaan yang kuat, maka hendaklah kita melihat makna ayat ini dan kita melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat: setiap diperintahkan mereka melaksanakan, setiap dilarang mereka meninggalkannya. Karena itu mereka bersatu. Maka dikatakan mereka seperti satu hati.
Raja orang kafir mengatakan, “Kami telah melihat teman-teman Kisra dan kaisar tapi kami tidak pernah menemukan seperti sahabat Muhammad”. Maka berkata salah seorang panglima di kisaran Qodisiyah bahwa orang-orang Islam telah belajar dari Muhammad. Inilah persatuan yang dibangun di atas pondasi.
Ada pun orang yang pura-pura berbasa-basi, maka Allah SWT akan mengungkap kebasa-basian. Allah SWT tidak memperbaiki orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah SWT tidak memberikan janji kepada orang-orang yang berkhianat. Dan sebaliknya, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang shalih. Dan Allah menunjukkan jalan keluar bagi orang-orang beriman. Dan Allah menjauhkan keburukan dari mereka.
Maka setiap kamu menemukan dalam hati suatu keinginan untuk bersatu maka berarti Allah telah menginginkan kebaikan darinya. Dan kebalikannya – ini juga merupakan kebenaran – jika ada seseorang yang dalam dirinya ingin perpecahan-perpecahan berarti Allah menginginkan keburukan darinya. Karenanya Allah SWT mengingatkan janganlah engkau berpecah belah seperti orang terdahulu berpecah belah.
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas (al-bayyinat).” (QS. Ali Imran: 105)
Lihatlah makna yang sama antara ذُكِّرُواْ بِهِ (dzukkiru bihi) dengan makna الْبَيِّنَاتُ (al-bayyinat).
Keadilan itu jelas. Kebenaran itu jelas. Pondasi agama jelas. Iman dan seluruh rukun-rukunnya jelas. Tujuan semuanya telah nampak. Semua itu merupakan al-bayyinat. Kepadanya hati orang-orang beriman berkumpul. Dan kepadanya barisan orang-orang shalih berkumpul. Inilah jalannya orang-orang beriman sepanjang sejarah. Kita mohon kepada Allah SWT semoga kita tergolong orang-orang yang bertaqwa. (hdn)
[+/-] Selengkapnya..."Bersatulah, Jangan Seperti Orang-Orang yang Bercerai-Berai"
Diposkan oleh
Nasyid for dakwah
di
16:52
0
komentar
Urgensi Bahasa Arab

Oleh: Abdul Rahman *)
�Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya� (QS. Yusuf : 2)
�Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu bahwa aku adalah orang Arab, bahwa al-Quran adalah bahasa Arab, dan bahasa penghuni syurga di dalam syurga adalah bahasa Arab� (HR. at-Thabrani)
�Bersemangatlah dalam mempelajari bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab adalah sebagian dari agamamu� (Umar Ibnul Khattab)
�Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syi�ar Islam� (Asy Syahid Imam Hasan Al Banna)
Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian) sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia. Tidak seperti bahasa lain yang mudah tercemar seiring dengan globalisasi dan majunya peradaban.
Belajar bahasa Arab memang sebuah keharusan yang layak dikuasai oleh umat Islam. Sebab sejak awal mula diturunkan ajaran Islam sampai hari ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Seseorang tak akan mampu memahami Islam dengan benar tanpa melalui kidah bahasa Arab. Menafsirkan al-Qur�an wajib menggunakan kaidah bahasa Arab, bukan dengan kaidah/tata bahasa-bahasa selainnya. Seorang muslim tak akan mungkin (mustahil) berpisah dari bahasa Arab. Untuk itu kita mempunyai kewajiban untuk terus berusaha medalami dan mensyi�arkannya dalam kehidupan sehari hari. Asy Syahid Hasan Al Banna telah mewasiatkan: �takallamul lughatal �arabiyatal fushkha fainnaha min sya�airil islam� (Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syi�ar Islam). Shahabat Umar bin Khattab RA. pernah mengatakan: �ta�allamul lughatal �arabiyah fainnaha min diinikum� (Pelajarilah bahasa Arab karena dia adalah bagian dari dien kalian). Juga hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dengan sanad dari Malik: �Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab�.
Al-Quran sebagai kitab suci abadi yang menghapus semua kitab suci yang pernah ada, diturunkan dalam bahasa Arab. Rasulullah SAW sebagai nabi akhir zaman yang risalahnya berlaku untuk seluruh manusia di muka bumi sampai akhir zaman, juga berbahasa Arab, tanpa pernah diriwayatkan mampu berbahasa selain Arab.
Hadits-hadits nabawi diriwayatkan secara berantai hingga sampai kepada kita melewati masa berabad-abad, juga tertulis dalam bahasa Arab. Bahkan semua kitab yang menjelaskan materi Al-Quran, As-Sunnah serta syariah Islamiyah hasil karya para ulama muslim sedunia sepanjang masa, juga kita warisi dalam bahasa Arab.
Ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.
Kalau kita bandingkan antara jumlah orang awam dan jumlah para ulama, kita akan menemukan perbandingan yang jauh dari proporsional. Dengan kata lain, ulama di masa sekarang ini termasuk `makhluk langka` bahkan nyaris punah.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan atas jasa mereka selama ini, namun kenyataanya bahwa kebanyakan tokoh agama serta para penceramah yang kita dapati masih minim dari penguasan secara mendetail dalam kisi-kisi ilmu syariah. Tidak sedikit dari mereka yang sama sekali buta bahasa Arab. Dan otomatis rujukan satu-satunya hanya buku terjemahan saja. Bahkan ketika membaca Al-Quran pun tidak paham maknanya. Apalagi membaca hadits-hadits nabawi. Dan jangan ditanya bagaimana mereka bisa merujuk kepada kajian syariah Islam dari para fuqaha sepanjang sejarah, karena nyaris semua literaturnya memang dalam bahasa Arab.
Lalu kita bisa pikirkan sendiri bagaimana kualitas umatnya bila para tokoh agama pun masih dalam taraf yang kurang membahagiakan itu?
Maka memperbanyak jumlah ulama serta menyebar-luaskan ilmu-ilmu syariah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi mendalami ilmu-ilmu syariah.
"Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122)
Karena itu, keinginan anda untuk belajar bahasa Arab dan menguasainya adalah sebuah keinginan yang teramat mulia, sehingga perlu didukung penuh. Jangan sampai keinginan itu berhenti hanya karena alasan teknis semata.
Empat Dimensi Penguasaan Bahasa Arab
Menguasai bahasa Arab itu minimal harus menguasai empat sisi.
1. Fahmul Masmu'
Maksudnya kita harus mampu memahami apa yang kita dengar. Jadi kalau ada orang Arab membacakan berita di TV atau sedang berdialog, kita mampu mengerti.
2. Fahmul Maqru'
Maksudnya kita harus mampu memahami teks yang kita baca. Sehingga buku, kitab, majalah, koran atau teks apapun yang tertulis dalam bahasa Arab, mampu kita pahami.
3. Ta'bir Syafahi
Maksudnya kita mampu menyampaikan isi pikiran kita dalam bahasa Arab secara lisan, dimana orang Arab mampu memahami apa yang kita ucapkan.
4. Ta'bir Tahriri
Maksudnya kita mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang Arab dengan bentuk tulisan, dimana orang Arab bisa dengan mudah memahami maksud kita.
Problematika Belajar Bahasa Arab
Sebelum anda menentukan pilihan pada lembaga mana anda akan percayakan program belajar bahasa Arab anda, sebaiknya anda juga belajar dari beberapa pengalaman mereka yang pernah melakukannya sebelumnya. Juga tidak ada salahnya kalau anda juga mendengarkan pengalaman mereka, baik telah sukses maupun yang gagal.
Kenyataannya memang harus diakui bahwa tekad kuat untuk belajar bahasa Arab, terutama buat kalangan muda muslim yang tidak pernah mengecap pendidikan pesantren berbahasa Arab, seringkali kandas di tengah jalan.
Di Jakarta pernah berdiri puluhan ma'had dan lembaga kursus yang mengajarkan bahasa Arab. Sayangnya, kebanyakan keberhasilannya berjalan terseok-seok, kalau tidak mau dikatakan gagal total. Umumya kurang berhasil dalam mengantarkan para siswanya untuk menjadi orang yang mahir bahasa Arab.
Biasanya, alasan paling klasik adalah lamanya masa belajar dan rasa bosan yang dengan cepat menghantui para pelajar. Apalagi ditambah dengan padatnya aktiftitas peserta di luar jam kurus, sehingga biasanya lembaga kursus itu menyelenggarakan pengajaran bahasa dengan cara non-intensif. Kursus diselenggarakan seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Sekali pertemuan hanya 2 atau 3 jam saja. Dilihat dari sisi keintensifannya saja, sudah terbayang kegagalannya.
Semua itu kemudian diperparah kualitas pengajar yang umumnya juga orang Indonesia, di mana secara teori mungkin menguasai dasar-dasar gramatika bahasa Arab, tetapi secara dzauq (taste), kemampuan mereka amat terbatas. Banyak sekali para pengajar yang mampu berbicara dalam bahasa Arab, namun dengan ta'bir (cara pengungkapan) yang bukan digunakan oleh orang Arab. Sehingga orang Arab sendiri pun kalau mendengarnya agak berkerut-kerut dahinya sampai 10 lipatan.
Masalah kurikulum pengajaran pun seringkali malah menjadi faktor penghalang besar. Yaitu ketika para peserta dijejali dengan berbagai macam aturan, rumus, kaidah dan tetek bengeknya, tapi kurang praktek langsung. Bisa jadi secara teori mereka sangat paham, tapi giliran harus menggunakan bahasa itu baik secara lisan, tulisan atau pendengaran, semua jadi berantakan alias gagal total. Kasusnya mirip dengan orang yang belajar berenang secara teoritis, menguasai aturan gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya katak dan lainnya. Tapi giliran masuk kolam, tenggelam dan tidak timbul-timbul lagi. Sungguh menyedihkan memang.
Bahasa adalah Aplikasi
Tempat belajar suatu bahasa yang paling baik bukan di dalam sebuah lembaga kursus, juga bukan di dalam sebuah kelas. Tempat belajar yang paling baik adalah di tempat dimana semua orang berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.
Kalau anda ingin pandai bahasa Jawa, sebaiknya anda tinggal selama beberapa tahun di Jogjakarta atau di Solo. Terutama di pedesaan dimana masyarakat dengan setia menggunakan bahasa Jawa. Di sana anda bukan hanya belajar kosa kata jawa, tetapi juga mendengar, melihat, memperhatikan, menirukan, serta beradaptasi secara langsung dengan cara komunikasi orang jawa. Sebab bahasa itu bukan sekedar kosa kata, tetapi termasuk juga tutur bahasa, cara mengungkapkan, cara melafalkan, bahkan termasuk bahasa tubuh, mimik dan intonasi. Dan semua bermula dari mendengar setiap saat ucapan. Pagi, siang, sore dan malam hari yang anda dengar hanya percakapan orang-orang dalam bahasa Jawa.
Ini adalah cara belajar bahasa yang paling alami, paling mudah dan paling berhasil. Cara ini telah melahirkan jutaan anak-anak berusia 1 tahun hingga 5 tahun yang mahir berbahasa Jawa. Jangan kaget, kalau di Jogja dan Solo, rata-rata anak kecil mahir berbahasa Jawa (?).
Dan jangan kaget juga kalau di Mesir dan negeri Timur Tengah lainnya, anak-anak mahir berbahasa Arab. Kalau anak kecil saja mahir berbahasa Arab, mengapa anda yang sudah dewasa tidak bias bahasa Arab?
Kesimpulannya adalah bahwa belajar bahasa itu membutuhkan sebuah komunitas orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa itu. Dimana kita ada di dalamnya dan ikut berinteraksi secara aktif. Demikianlah kaum muslimin sedunia telah disatukan dan dipersaudarakan dengan satu bahasa, bahasa Arab. Kita akan jaya dengan bahasa Arab. (ars16)
Diposkan oleh
Nasyid for dakwah
di
16:47
0
komentar
Kami Adalah Da'i

dakwatuna.com – Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.
Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.
Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).
Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.
Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?
Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).
Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.
Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:
1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan mempersulit
6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman
8. Memahaman, bukan mendikte
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.
Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam
Diposkan oleh
Nasyid for dakwah
di
07:26
0
komentar
Artikel Yang Telah Di Tulis
Mengenal lebih jauh diri sendiri
Ada Apa dengan Hati Manusia
Menangis
Ikhwan GANTENG Partner sejati Akhwat
Menjadi Muslimah DIAM bukan tertawa
Kejujuran Melawan Kebohongan
Hidup Indah dengan Bersahaja
Tahajud Penenang Hati
Tersenyumlah bukan tertawa
Antara Kemari dan Hari Ini
Apa Arti Tangisan Ini
Dialog Iblis Dengan Rasulullah
Cinta Tarbiyah Dakwah Hatiku Milikmu
Sabar Dalam Ukhuwah
Wanita itu Sudah tua namun semangat
Surat Dari Ibu yang Terkoyak Hatinya
Menuntut Ilmu Jalan ke Syurga
Syahid selepas Mengucapkan Syahadah
Bersandar Hanya Kepada Allah
Getaran Allah di Padan Arafah
Islam Adalah Darah Dagingmu
Pacaran Islami? Tidakkkkk….!!!
YA UKHTI…, JAUHILAH TABARRUJ…!
16
WAJIB ATAS SETIAP MUSLIM UNTUK MENERAPKAN HUKUM ALLAH DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPANNYA SESUAI DENGAN KEMAMPUANNYA.
Cara menasehati orang yang jelas melakukan kemaksiatan
WAJIB ATAS SETIAP MUSLIM UNTUK MENERAPKAN HUKUM ALLAH DALAM SEGALA ASPEK KEHIDUPANNYA SESUAI DENGAN KEMAMPUANNYA.
CARA MENASEHATI ORANG YANG TERANG-TERANGAN MELAKUKAN KEMAKSIATAN
UMMU 'UQAIL SEORANG WANITA YANG MENGAJARKAN KAUM PRIA UNTUK BERSABAR
Larangan Isbal, Melabuhkan Pakaian Hingga Menutup Mata Kaki
Da'wah Mengajak Kepada Aqidah Yang Shahih Membutuhkan Usaha Yang Sungguh-Sungguh Dan Berkelanjutan
Menggapai Malam Lailatul Qadr
Permainan Blogger
Keajaiban berpuasa
Hikmah Bersahur
Ramadhan mengajari kita hakikat nafsu
Menyambut Tamu Besar Bernama Romadhan
10 langkah menyambut Romadhan
Hafalan Al-Qur’an Menjadi Mahar dalam Pernikahan
Hukum Ikhtilat
Abu Hammam As Syahroni
Taubat Nasuha
Keterangan Al-Qur'an
13 Sifat Wanita yang di benci laki2
Memelihara Ikatan hati dan iman
Ayah..Dengarlah
Tersenyumlah Bidadari Berjilbab
Salman Al-Farisi
Wanita yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur'an
Islamnya Napoleon Bonaparte
Dahsyatnya Proses Sakaratul Maut
Islam Itu Indah
Pembahasan Seputar Hasad
Arti Nasyid


Home
Mujahidin FM
Galeri Foto
Al-ikhwan
Website ANN
Download mp3 Murottal
Profile Ku





