<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Nov 2009 00:26:07 +0000</lastBuildDate><title>'</title><description>Tegakkan Dakwah Dengan nasyid</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>77</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-2885498188670618481</guid><pubDate>Wed, 16 Nov 2011 00:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-18T19:28:10.970+07:00</atom:updated><title>Hadits Arba'in 1 : IKHLAS</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwCg3dVzCZI/AAAAAAAAAa0/viT3nUnlYuc/s1600/ikhlas25.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 165px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwCg3dVzCZI/AAAAAAAAAa0/viT3nUnlYuc/s200/ikhlas25.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404496427473897874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;HADITS PERTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti Hadits / ترجمة الحديث :&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Muslim INFO Project | http://www.mediamuslim.info | Indonesia @ 1428 H / 2007 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-2885498188670618481?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/hadits-arbain-1-ikhlas.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwCg3dVzCZI/AAAAAAAAAa0/viT3nUnlYuc/s72-c/ikhlas25.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-1988865582275446589</guid><pubDate>Thu, 19 Nov 2009 00:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-19T07:26:07.031+07:00</atom:updated><title>Pelajaran Berharga dari Iedul Qurban</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwSQWMxxOpI/AAAAAAAAAbE/OabRJliXtHI/s1600/Selamat+Idul+Adha.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwSQWMxxOpI/AAAAAAAAAbE/OabRJliXtHI/s200/Selamat+Idul+Adha.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405604163812932242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski baru saja ‘Iedul Adha atau ‘Iedul Qurban meninggalkan kita, dan walau setahun kemudian kita akan bertemu dengannya lagi -insya Allah-, ‘Iedul Qurban telah menyimpan pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan kaum muslimin di manapun berada yang takkan pernah hilang dan lepas dari diri kita sekalipun dimakan rentang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berqurban tidaklah semata-mata menyembelih hewan pada waktu ‘Iedul Adha, walaupun kata qurban secara bahasa ialah hewan yang disembelih waktu adha -sedangkan menurut istilah, qurban ialah hewan yang dikhususkan pada waktu yang dikhususkan dan syarat-syarat yang dikhususkan pula dengan niatan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah)- tetapi di balik itu semua tersimpan sesuatu yang berharga yang keabsahan qurbanpun tergantung padanya, bahkan ia sebagai syarat bagi ibadah-ibadah lainnya. Pelajaran berharga itu adalah tauhid, ikhlas semata untuk Allah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa kedudukan tauhid dalam ibadah ibarat kedudukan wudlu dalam sholat, yang tidak sah sholat seseorang jika tidak memiliki wudlu demikian pula tidak sah ibadah seseorang kecuali dengan tauhid. Perhatikanlah ketika Allah berfirman (yang artinya), "Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah." (QS Al Kautsar: 2). Allah memerintahkan rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjadikan sholatnya dan sembelihannya ikhlas untuk Allah saja tidak ada serikat baginya (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/600).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah juga berfirman (yang artinya), "Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS Al An’am: 162-163).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menyembelih hewan qurban adalah salah satu syiar Islam terbesar, dimana pada hari itu adalah hari kemenangannya ahli tauhid yang Allah perintahkan mereka agar menyelisihi kaum musyrikin dalam peribadahannya dan penyembelihannya. Allah berfirman (yang artinya), "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (QS Al Ahqaaf: 5-6).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan Allah juga berfirman (yang artinya), "Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menyeru mereka seraya berkata: Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan? Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka: Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu, kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami. Dikatakan (kepada mereka): Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu. Lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka dan mereka melihat adzab (mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk." (QS Al Qashash: 62-64).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perintah berqurban adalah perintah yang disyariatkan oleh Allah. Allah berfirman (yang artinya), "Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS Al Hajj: 34).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia juga sebagai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat ditekankan. Cukuplah yang demikian itu ditunjukkan dengan firman Allah (yang artinya), "Barangsiapa yang mentaati Rasul itu sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (QS An Nisaa: 80).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (QS An Nahl: 44).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian dalam berqurban, syiar yang paling besar terkandung di dalamnya ialah bahwa ia sebagai millah (ajaran / agama) Ibrohim yang kita diperintahkan untuk mengikutinya. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (Lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang sholih. Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrohim seorang yang hanif’ dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS An Nahl: 120-123).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian jelaslah bagi siapa saja yang mengetahui dan memperhatikan ayat-ayat ini bahwa millahnya nabi Ibrohim adalah millah hanifiyyah yakni satu ajaran yang dibangun di atas landasan tauhid dan berpaling dari kesyirikan beribadah hanya kepada Allah saja dan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Hingga dengan ini beliau dijuluki sebagai seorang imam. Oleh karena itu, syiar yang besar dan pelajaran yang berharga dari ‘Iedul Qurban adalah tauhid. Yang dituntut seluruh kaum muslimin untuk menancapkan aqidah tauhid ini dalam jiwanya dan beramal dengan tuntutan-tuntutan kalimat tauhid laa ilaaha illallah tersebut. Karena ia kewajiban yang pertama dan terakhir dalam Islam. Ingatlah! Ketika Nabi Ibrohim berkata kepada bapaknya (yang artinya), "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithon, sesungguhnya syaithon itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka kamu menjadi kawan bagi syaithon." (QS Maryam: 42-45). Demikianlah tauhid dan dakwah kepada tauhid menjadi syiar dan inti dakwahnya Nabi Ibrohim dan Nabi serta rasul-rasul lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh ‘alaihis salam sebagai rasul yang pertama diutus, beliau berkata kepada kaumnya (yang artinya), "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan." (QS Huud: 25-26).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi Huud ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya (Aad) (yang artinya), "Hai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia." (QS Huud: 50).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi Sholih ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya (Tsamud) (yang artinya), "Hai kaumku, sembahlah Allah! sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia." (QS Huud: 61).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi Syu’aib berkata kepada kaumnya (Madyan) (yang artinya), "Hai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia." (QS Huud: 74).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu juga dengan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kita kepada tauhid dan melarang dari berbuat syirik (yang artinya), "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudhorot kepadamu selain Allah. Sebab jika kamu berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Yunus: 106).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah telah memperjelas lagi dalam ayat lain tentang tugas yang diemban para Rasul (yang artinya), "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thoghut!’" (QS An Nahl: 36). "Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (QS Al Anbiyaa: 25).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui bahwa pelajaran yang berharga dari Iedul Qurban ialah tauhid, millahnya Nabi Ibrohim, satu hal lagi yang juga pelajaran penting bagi kita ialah kesabaran serta keteguhan Nabi Ibrohim dalam mendakwahkan dan membela aqidah tauhid. Allah berfirman (yang artinya), "Sesungguhnya telah ada suri tauladan bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrohim kepada bapaknya: Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah. Ibrohim berkata: Ya Tuhan Kami, hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (QS Al Mumtahanah: 4).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS Al Mumtahanah: 6).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh besar anugrah yang Allah berikan kepada kita berupa petunjuk agama yang lurus. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengabarkan nikmat yang Allah berikan padanya dari hidayah shirothol mustaqim millatu Ibrohim (yang artinya), "Katakanlah sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrohim yang lurus, dan Ibrohim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS Al An’am: 161).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan hanya itu saja, tetapi Allah juga muliakan para pengikut millahnya Ibrohim dan menghinakan orang-orang yang membencinya. Allah berfirman (yang artinya), "Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrohim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang sholih. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah’, Ibrohim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.’ " (QS Al Baqoroh: 130-131).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keistimewaan ‘Iedul Qurban ini hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaqwaan. Allah berfirman (yang artinya), "Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketaqwaan darimu-lah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayahnya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al Hajj: 37).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan semoga kita senantiasa menjadi orang-orang yang menjunjung tinggi syiar-syiar Allah, "Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati." (QS Al Hajj: 32).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di samping itu semoga kita juga orang-orang yang senantiasa mengamalkan firman Allah (yang artinya), "Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaklah beramal dengan amalan yang sholih dan tidak menyekutukannya dalam beribadah kepadanya dengan sesuatu apapun." Wal ‘ilmu ‘indallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhamdulillahi robbil alamin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber: Buletin Al Wala’ Wal Bara’&lt;br /&gt;Edisi ke-9 Tahun ke-1 / 14 Februari 2003 M / 12 Dzul Hijjah 1423 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-1988865582275446589?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/pelajaran-berharga-dari-iedul-qurban.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwSQWMxxOpI/AAAAAAAAAbE/OabRJliXtHI/s72-c/Selamat+Idul+Adha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-5580038080249869351</guid><pubDate>Mon, 16 Nov 2009 00:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-16T07:59:46.494+07:00</atom:updated><title>Muhasabah harian setiap muslim</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwCj_LnObFI/AAAAAAAAAa8/5aN8HC7CNE0/s1600/muhasabah+diri+pada+ilahi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 135px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwCj_LnObFI/AAAAAAAAAa8/5aN8HC7CNE0/s200/muhasabah+diri+pada+ilahi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404499858688994386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1.Apakah anda setiap hari selalu shalat shubuh berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)&lt;br /&gt;2.Apakah anda selalu menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)&lt;br /&gt;3.Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?&lt;br /&gt;4.Apakah anda rutin membaca dzikir setelah selesai melaksanakan shalat wajib?&lt;br /&gt;5.Apakah anda selalu menjaga shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib?&lt;br /&gt;6.Apakah anda hari ini khusyu’ dalam shalat, menghayati apa yang anda baca?&lt;br /&gt;7.Apakah anda hari ini mengingat mati dan kubur?&lt;br /&gt;8.Apakah anda hari ini mengingat hari kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya?&lt;br /&gt;9.Apakah anda telah memohon kepada Allah sebanyak 3 kali agar dimasukkan ke dalam syurga?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;10.Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah sebanyak 3 kali agar diselamatkan dari api neraka? Karena: Barang siapa yang memohon syurga kepada Allah sebanyak 3 kali, Syurga berkata, Wahai Allah! Masukkanlah ia ke dalam syurga, dan barang siapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak 3 kali, Neraka berkata, Wahai Allah! Selamatkan ia dari api neraka. (Shahih Al-Jami’ No. 6151 Jilid 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Apakah anda hari ini membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.Apakah anda hari ini menangis karena takut kepada Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.Apakah anda selalu membaca dzikir pagi dan sore hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.Apakah anda hari ini telah memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah anda perbuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.Apakah anda telah memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang memohon kepada Allah dengan benar untuk mati syahid, maka Allah akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidurnya. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Apakah anda telah berdo’a kepada Allah agar Ia menetapkan hati anda di atas agama-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah di waktu –waktu yang mustajab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.Apakah anda telah membeli buku-buku islam untuk memahami islam? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang diikuti oleh para sahabat Nabi, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.Apakah anda memintakan ampun kepada Allah untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah? Karena dengan mendo’akan mereka anda mendapat kebaikan pula. (Shahih Al-Jami’ No. 5902)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.Apakah anda telah memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.Apakah hari ini anda telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.Apakah anda dapat menahan amarah yang disebabkan karena urusan pribadi dan berusaha untuk marah karena Allah semata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.Apakah anda telah berusaha untuk selalu menjauhkan diri dari sikap sombong dan membanggakan diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.Apakah anda telah mengunjungi saudara –saudara seiman dan seagama (ikhlas karena Allah semata)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.Apakah anda telah berdakwah untuk keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang yang ada hubungannya dengan diri anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.Apakah anda selalu mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun – Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya jika anda mendapat musibah dari Allah? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah masing-masing kalian melakukan istirja’ (mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun) pada setiap hal meskipun ketika tali sandalnya putus karena hal itu termasuk musibah. (Hadits hasan, lihat Shahih Al-Kalimut Thayyib No. 140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.Apakah anda hari ini mengucapkan do’a: Allahumma Innii A’uudzubika an Usyrikabika wa Anaa A’lam wa Astaghfiruka Limaa laa A’lam – Ya allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahui dan aku memohon ampunan-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui. (Shahih Al-Jami’ No. 3625). Barang siapa yang mengucapkannya maka Allah akan menjauhkan darinya dari syirik besar dan syirik kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.Apakah anda selalu berbuat baik kepada tetangga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad dan dengki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.Apakah anda telah membersihkan lisan anda dari perkataan dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata yang tidak ada manfaatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.Apakah anda selalu takut kepada Allah dalam hal penghasilan, makanan, minuman dan pakaian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan?&lt;br /&gt;Akhi muslim, jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan nyata, agar engkau mendapat ridla Allah dan menjadi orang-orang yang beruntung di dunia dan di akherat, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;-Zaadul Muslim Al-Yaumi , Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Al-Qabru ‘Adzaabuhu wa Na’iimuhu, Syaikh Husain Al-‘Awaisyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kontributor : Abu Abdurrahman Umar Munawwir] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-5580038080249869351?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/muhasabah-harian-setiap-muslim.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SwCj_LnObFI/AAAAAAAAAa8/5aN8HC7CNE0/s72-c/muhasabah+diri+pada+ilahi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-7712634947585313286</guid><pubDate>Thu, 12 Nov 2009 15:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-12T22:28:15.903+07:00</atom:updated><title>Teori Optik Ibnu Haitham</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvwpiSNXL-I/AAAAAAAAAas/jzlIoGkqF8M/s1600-h/islam_and_tecno.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvwpiSNXL-I/AAAAAAAAAas/jzlIoGkqF8M/s200/islam_and_tecno.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403239321917927394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Melalui Kitab Al Manadhir, teori optik pertama kali dijelaskan. Hingga 500 tahun kemudian, teori Al Haytham ini dikutip banyak ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak orang yang tahu bahwa orang pertama yang menjelaskan soal mekanisme penglihatan pada manusia — yang menjadi dasar teori optik modern — adalah ilmuwan Muslim asal Irak. Namanya Ibnu Al-Haitam atau di Barat dikenal dengan nama Alhazen. Lewat karya ilmiahnya, Kitab Al Manadhir atau Kitab Optik, ia menjelaskan berbagai ragam fenomena cahaya termasuk sistem penglihatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama lebih dari 500 tahun, Kitab Al Madahir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Di tahun 1572, karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab tiga volume pertama buku ini mengupas ide-ide dia tentang cahaya. Dalam buku itu, Haytham meyakini bahwa sinar cahaya keluar dari garis lurus dari setiap titik di permukaan yang bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuat percobaan yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang pembiasan cahaya. Ia jugalah yang melakukan eksperimen pertama tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang sama, ia menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam, dan juga teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi. Ia juga melakukan percobaan untuk menjelaskan penglihatan binokular dan memberikan penjelasan yang benar tentang peningkatan ukuran matahari dan bulan ketika mendekati horison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haytham mencatatkan namanya sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Ia memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Salah satu teorinya yang terkenal adalah ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya yang keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, ia menjelaskan bagaimana mata bisa melihat objek. Ia menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karyanya yang paling menomental adalah ketika Haytham bersama muridnya, Kamal ad-Din, untuk pertama kali meneliti dan merekam fenomena kamera obsecura. Inilah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai “ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dalam bukunya Mizan al-Hikmah, ia mendiskusikan kepadatan atmosfer dan membangun korelasi antara hal tersebut dengan faktor ketinggian. Ia juga mempelajari pembiasan atmosfer dan menemukan fakta bahwa senja hanya muncul ketika matahari berada 19 derajat di bawah horison. Dengan dasar itulah, ia mencoba mengukur tinggi atmosfer. Dalam bukunya, ia juga membahas teori daya tarik massa, suatu fakta yang menunjukkan ia menyadari korelasi percepatan dengan gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di bidang fisika, Ibnu Haytham juga memberikan kontribusi penting terhadap ilmu matematika. Dalam ilmu ini, ia mengembangkan analisis geometri dengan membangun hubungan antara aljabar dengan geometri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haytham juga membuat buku tentang kosmologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Yahudi di abad pertengahan. Karya lainnya adalah buku tentang evolusi, yang hingga kini masih menjadi perhatian ilmuwan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, dari sekian banyak karyanya — bukunya diperkirakan berjumlah 200 lebih — hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab Al Manadhir, tidak diketahui lagi rimbanya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Al-Haytham (965-1039)&lt;br /&gt;Nama Lengkap: Abu Ali Muhammad Ibn al-Hasan Ibn al-Haytham&lt;br /&gt;Nama Alias (Barat): Alhazen&lt;br /&gt;Asal: Basra, Irak.&lt;br /&gt;Teori yang dikembangkan: optik, pembiasan cahaya&lt;br /&gt;Karya ilmiah: Kitab al-Manazir (Book of Optics).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta Teori Optik&lt;br /&gt;Yang Tercatat: Isaac Newton pada abad ke-17 mengembangkan teori mengenai lensa, sinar, dan bentuk prisma yang menjadi dasar bagi teori modern mengenai optik&lt;br /&gt;Fakta: Pada abad ke-11 Al Haytham telah mengembangkan teori optik. Tak tertututp kemungkinan, teori Newton dipengaruhi olehnya, karena pada Abad pertengahan, teorinya sangat terkenal. Karyanya banyak dikutip ilmuwan Eropa. Selama abad ke-16 sampai 17, Newton dan Galileo mengombinasikan teorinya dengan temuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tercatat: Isaac Newton, pada abad ke-17, dalam teori konvergensi cahaya, menemukan bahwa cahaya putih terdiri dari beragam warna cahaya.&lt;br /&gt;Fakta: Al Haytham (abad XI) dan Kamal Ad Din (abad XIV) pernah mengungkapkan hal yang sama. Newton bukan satu-satunya ilmuwan yang menyatakan teori itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tercatat: Ilmuwan Inggris, Roger Bacon (1292) mengemukakan pertama kali tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu pengelihatan. Lensa itu merupakan penyederhanaan bentuk dari hasil kerja Al Haytham. Pada waktu yang bersamaan, kaca mata dibuat dan digunakan di Cina dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta: Ibn Firnas dari Spanyol sudah membuat kaca mata pada abad ke-9. Dia membuat dan menjualnya ke seluruh Spanyol dua abad sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-7712634947585313286?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/teori-optik-ibnu-haitham.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvwpiSNXL-I/AAAAAAAAAas/jzlIoGkqF8M/s72-c/islam_and_tecno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-7108845509713939992</guid><pubDate>Thu, 12 Nov 2009 15:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-16T07:55:28.853+07:00</atom:updated><title>Di Antara Berjuta Cinta</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvwnFDCtWEI/AAAAAAAAAak/IXdml6SF9g8/s1600-h/lovesign.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvwnFDCtWEI/AAAAAAAAAak/IXdml6SF9g8/s200/lovesign.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403236620607248450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini rasanya tak pernah dapat dilepaskan dari apa yang dinamakan ‘cinta’. Dengannya menjadi semarak dan indah dunia ini. Lihat saja, bagaimana seorang bapak begitu bersemangat dalam beraktivitas mencari nafkah, tak lain karena dorongan cintanya terhadap anak dan isterinya. Seorang yang lain pun begitu semangatnya menumpuk harta kekayaan, karena sebuah dorongan cinta terhadap harta benda, demikian pula mereka yang cinta kepada kedudukan, akan begitu semangat meraih cintanya.&lt;br /&gt;Itu semua adalah beberapa contoh dari berjuta cinta yang ada. Meskipun kesan yang banyak dipahami orang tentang cinta, identik dengan apa yang terjadi antara seorang pemudi dan pemuda. Padahal cinta tak hanya sebatas itu saja.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata masalah cinta memang tidak sederhana. Ada cinta yang bernilai agung lagi utama, namun ada pula cinta yang haram dan tercela. Cinta sendiri kalau dilihat menurut islam, maka dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk. Kita semestinya tahu tentang model cinta tersebut untuk kemudian mampu memilih mana cinta yang mesti kita lekatkan di hati, mana pula cinta yang mesti kita tinggalkan sejauh-jauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kepada Allah&lt;br /&gt;Cinta model ini adalah cinta yang paling utama. Bahkan kata ulama kita, cinta kepada Allah adalah pokok dari iman dan tauhid seorang hamba. Karena memang Allah sajalah satu-satunya dzat yang patut diberikan rasa cinta.&lt;br /&gt;Segala cinta, kalau kita buat peringkat maka nyatalah bahwa cinta kepada Allah adalah puncaknya. Ia adalah yang tertinggi, paling agung dan paling bermanfaat. Begitu bermanfaat cinta kepada Allah ini, sehingga tangga-tangga menuju kepadanya pun merupakan hal-hal yang bermanfaat pula. Diantaranya berupa taubat, sabar dan zuhud. Apabila cinta diibaratkan sebuah pohon maka ia pun akan menghasilkan buah-buah yang bermanfaat seperti rasa rindu dan ridha kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita mesti cinta kepada Allah ? banyak sekali alasannnya. Diantaranya adalah karena Allah lah yang memberikan nikmat kepada kita, bahkan segala nikmat. Sedangkan hati seorang hamba tercipta untuk mencinta orang yang memberikan kebaikan kepadanya. Kalau demikian, sungguh sangat pantas apabila seorang hamba cinta kepada Allah, karena Dialah yang memberikan semua kebaikan kepada hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apa-apa nikmat yang ada pada kalian , maka itu semua dari Allah”&lt;br /&gt;(QS Al Baqarah : 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hamba di setiap pagi dan petang, siang dan malam selalu berdoa, memohon dan meminta pertolongan kepada Allah. Dari doa tersebut kemudian Allah memberikan jawaban, menghindarkan hamba dari bahaya, memenuhi kebutuhan hamba tadi. Keterikatan ini mendorong hati untuk mencinta kepada dzat tempat ia bermohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap insan pun tak lepas dari dosa dan kesalahan, maka Allah selalu membuka pintu taubat kepada hamba tadi, bahkan Allah tetap memberikan rahmah meski hamba kadang tidak menyayangi dirinya sendiri. Kebaikan-kebaikan yang dibuat hamba, tak ada sesuatu pun yang mampu diharap untuk memberi balasan dan pahala kecuali Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, Allah telah menciptakan hamba, dari sesuatu yang tak ada menjadi ada. Tumbuh, berkembang dengan rizki dari Allah Ta’ala. Maka ini menjadi alasan kenapa hamba semestinya cinta kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang menuntut bukti. Tak hanya sekedar ucapan, seperti pepatah orang arab ’semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila namun si Laila tak pernah mengakuinya’. Dan wujud cinta ilahi dibuktikan dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Rasulullah) maka Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian” (QS Ali Imran : 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengikuti sunah nabi dan juga berjihad di jalan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta karena Allah / cinta di jalan Allah&lt;br /&gt;Cinta karena Allah tentu saja mengikuti cinta yang pertama. Seperti dalam kehidupan, ketika kita cinta kepada seseorang maka apa yang dicintai oleh orang yang kita cinta pun kita sukai pula. Cinta karena Allah adalah cinta kepada ‘person’ yang dicinta Allah seperti para nabi, rasul para sahabat nabi dan orang-orang shalih. Cinta karena Allah jua berujud cinta kepada perbuatan shalih seperti shalat, puasa zakat, berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga, berakhlaq mulia, menuntut ilmu syar’i dan segala perbuatan baik yang lain. Dengan demikian, ketika seoarng muslim mencinta seseorang atau perbuatan maka ia punya sebuah barometer “apakah hadir pada perbuatan maupun orang tadi hal yang dicinta Allah”. Bagaimana kita tahu kalau suatu perbuatan dicinta Allah? Jawabnya adalah, apabila Allah perintahkan atau diperintahkan Rasulullah berupa hal yang wajib maupun yang sunnah(mustahab).&lt;br /&gt;Cinta yang disyariatkan diantaranya adalah cinta kepada saudara seiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta ini bermanfaat bagi pelakunya sehingga mereka layak mendapatkan perlindungan Allah di hari tiada perlindungan kecuali perlindungan Allah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bersama Allah&lt;br /&gt;Kecintaan ketiga ini adalah cinta yang terlarang. Cinta bersama Allah berarti mencintai sesuatu selain Allah bersama kecintaan kepada Allah. Membagi cinta, adalah model cinta yang ketiga ini. Kecintaan ini hanyalah milik orang-orang musyrik yang mencintai sesembahan-sesembahan mereka bersama cinta kepada Allah. Seperti firman Allah:&lt;br /&gt;“Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan, yang mereka mencintai tandingan tadi sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat besar cinta mereka kepada Allah “&lt;br /&gt;(QS Al Baqarah : 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaan ini bisa ditujukan kepada pohon, berhala, bintang, matahari, patung , malaikat, rasul dan para wali apabila kesemuanya dijadikan sesembahan selain Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bagaimana cinta kita kepada anak, harta, pakaian, nikah dan kepada hal yang berhubungan dunia ? Cinta yang seperti ini adalah cinta yang disebut sebagai “cinta thabi’i” cinta yang sesuai dengan tabiat artinya wajar-wajar saja. Apabila mengikuti kecintaan kepada Allah, mendorong kepada ketaatan maka ia bermuatan ibadah. Sebaliknya bila mendorong kepada kemaksiatan maka ia adalah cinta yang tercela dan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entry Filed under: Tarbiyah Hati. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-7108845509713939992?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/di-antara-berjuta-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvwnFDCtWEI/AAAAAAAAAak/IXdml6SF9g8/s72-c/lovesign.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-4595126622611237887</guid><pubDate>Thu, 12 Nov 2009 15:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-16T07:51:11.246+07:00</atom:updated><title>Untukmu Wahai Aktifis Dakwah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvtNVWxdpbI/AAAAAAAAAaY/FuGsjC14PTA/s1600-h/20070913zorkotjihad.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 190px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvtNVWxdpbI/AAAAAAAAAaY/FuGsjC14PTA/s200/20070913zorkotjihad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402997207246677426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal Ikhwah,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum [negeri, peradapan] sebelum kaum itu mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri....(Ar Ra’d: 11)&lt;br /&gt;”....sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri....”(Al Anfaal:53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perubahan harus dimulai dari individu? ”karena individu manusia merupakan batu pertama dalam bangunan masyarakat. ”Kata Yusuf Al-Qaradhawi. (Fiqh Proritas, h. 241) adapun proses pembinaan diri ini dapat dilakukan dengan tarbiyah jama’iyah dan tarbiyah dzatiyah. Tarbiyah jama’iyah sebagai konsolidasi visi, fikrah,&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;kurikulum dan pemberdayaan semua potensi yang ada. Sedangkan tarbiyah dzatiyah merupakan pengembangan diri secara maksimal untuk dapat memberikan kontribusi dakwah dalam amal jama’i. Keduanya harus berlangsung secara simultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah Kami Punuh Dengan Kasih Sayang,..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami,memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputus asaan.&lt;br /&gt;Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian...kami tak pernah merasa lelah berjalan, tak merasa bosan berkarya, tak jengah mencari hidayah,tak gelisah meski kondisinya sederhana. Yang penting setiap perjalanan hidup bisa memberikan kontribusi dan karya nyata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayyuhal Ikhwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah yang kita pelajari ini merupakan bagian penting dalam perjalanan panjang kita menuju Allah SWT. Bahkan dakwah adalah perjalanan yang sebenarnya perjalanan yang akan sangat panjang dan melelahkan. Perjalanan yang membutuhkan kekuatan fisik, mental dan spiritual. Lalu, kapan berakhir..? maka sering-seringlah melihat matahari di pagi hari. Jika ia ternyata terbit dari barat, maka itulah pertanda berakhirnya perjalanan dakwah ini. Bertanya ” kapan berakhirnya perjalanan dakwah ini?” bukanlah hal yang asasi. Akan tetapi, berkata” beri kami ’petunjuk jalan’ agar kami sampai ke-akhir-nya!” ialah ungkapan kesiapan untuk memikul beban perjalanan. Karena kita harus mengetahui jalan atau cara dakwah yang benar, kemudian memikul tugas dan amanah ini agar para pendukung dakwah berhimpun menjadi satu, bergandeng tangan serta berjalan bersama kearah satu tujuan. Segala kekuatan dan usaha harus disesuaikan dan diatur rapi, sehingga pertolongan Allah menjelma dan bendera Al-Qur’an terus menerus berkibar di angkasa di jagat raya ini. Dan ketika itulah kelompok mikmin bergembira dengan pertolongan Allah.”Dan di hari (kemenangan itu bergimbiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah.”(Ar-Rum:4-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Seri taujih dakwah dan harokah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bacaan:&lt;br /&gt;1.Fiqh Dakwah, Syaikh Mustafa Mansyur&lt;br /&gt;2.Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Bana&lt;br /&gt;3.Quatum Tarbiyah Mencetak Kader Serba Bisa, Solikhin Abu’Izzuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by: Andi Widodo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-4595126622611237887?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/untukmu-wahai-aktifis-dakwah.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvtNVWxdpbI/AAAAAAAAAaY/FuGsjC14PTA/s72-c/20070913zorkotjihad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-1091999075453153186</guid><pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-12T17:47:38.162+07:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div id="cl_option"&gt; Loading... &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="cl_content_list"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;var jumlah_kata_dalam_ringkasan = 200;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://copycat91.googlecode.com/svn/trunk/contentlist.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://nasyid-intertainment.blogspot.com/feeds/posts/default?alt=json-in-script&amp;callback=onLoadFeed&amp;max-results=500"&gt; &lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align:right; font-size:80%"&gt;&lt;br /&gt;Re-published by: &lt;a href="nasyid-intertainment.blogspot.com"&gt; nasyid for dakwah &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-1091999075453153186?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/loading.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-1750635635513206303</guid><pubDate>Tue, 10 Nov 2009 00:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-16T07:50:51.826+07:00</atom:updated><title>Agar Tetap Tegar di Jalan Dakwah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvixULV0LMI/AAAAAAAAAaI/gpk_antXmIo/s1600-h/dakwah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvixULV0LMI/AAAAAAAAAaI/gpk_antXmIo/s200/dakwah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402262713230699714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dakwah adalah suatu kemestian yang dibebankan kepada setiap muslim yang mukallaf. Jalan yang harus ditempuh oleh setiap mukmin, agar bisa meraih kemenangan. Manusia yang telah mengikhlaskan dirinya untuk berdakwah, disebut da’i. Mereka telah menjual dirinya secara ikhlas dan wewakafkan harta mereka di jalan Alloh.&lt;br /&gt;Banyak kendala yang akan dihadapi oleh seorang da’i. Ujian-ujian hidup seperti siksaan fisik, rayuan, cemoohan, tekanan keluarga, dam kemiskinan yang jika tidak disikapi secara bijaksana, akan dapat memberangus komitmen seorang da’i. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang matang dan bekal yang cukup yang harus dimiliki oleh seorang da’i:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Persiapan ruhiyah. Aqidah menjadi pondasi utama kehidupan seorang mukmin. Generasi awal yang dididik oleh rosululloh secara langsung memiliki kekuatan ruhiyah luar biasa yang Diawali dari penanaman aqidah yang kuat di dalam hati. Kekuatan ruhiyah merupakan rahasia kekuatan bagi orang mukmin&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal itu telah dibuktikan oleh sosok bilal bin rabbah ra. Ketika ia telah menyatakan dirinya masuk islam, siksaan fisik seberat apapun tidak akan menggoyahkan keimanannya dan Justru itu akan semakin menambah keimanannya kepada alloh. Seorang da’i bukan hanya berkewajiban menyeru orang lain untuk kembali kepada jalan alloh, tetapi ia juga harus senantiasa belajar, dengan mendapatkan proses tarbiyah islam. Aktifitas yang banyak, namun tidak diimbangi dengan ruhiyah yang matang, hanya akan mendapatkan lelah, bosan, dan jenuh. Alloh mencela sikap orang-orang yang hanya pandai menyeru namun melalaikan kewajiban dirinya. “mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu) sendiri, padahal kamu membaca alkitab, apakah kamu tidak berfikir?”(albaqarah 2:44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Persiapan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang da’i harus memiliki karakter yang kuat dan jelas. Karena setiap langkah, tutur kata, perilaku, dan kehidupannya senantiasa diperhatikan umat. Persiapan karakter dilakukan dengan proses tarbiyah secara kontinyu. Ia juga harus memiliki pemahaman islam yang shohih(benar) dan syamil(menyeluruh), agar tidak menyesatkan umat, dan juga dapat menyampaikan secara tepat kepada umat. Pemahaman yang benar dan menyeluruh akan tampak dari akhlakmya yang menawan. Karena akhlak adalah cerminan kepribadian seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. persiapan tsaqofah (intelektualitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap da’i memiliki tugas untuk melakukan tabligh, maka dibutuhkan kecerdasan dan pemahaman ilmu-ilmu baik qouliyah maupun kauniyah. Pengetahuan islam yang baik, menjadi pondasi kehidupan seorang mukmin. Begitu pula dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Seorang da’i dituntut untuk dapat menguasainya. Karena ia harus berpengetahuan luas, dan tanggap terhadap situasi di sekelililingnya. Banyak kemajuan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk memperlancar kerja dakwah. Sarana-sarana elektronik seperti internet, televisi, radio, dan media cetak, alangkah baiknya jika dapat digunakan untuk berdakwah. Dengan menguasai berbagai bidang ilmu, seorang da’i akan muncul sebagai da’i berkualitas tinggi yang tampil prima di tengah umatnya.&lt;br /&gt;4. Persiapan jasadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap da’i hendaknya melakukan penjagaan kesehatan secara teratur dengan melakukan riyadhoh, mengkonsumsi makanan yang halal dan baik. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Alloh lebih mencintai muslim yang kuat dari pada muslm yang lemah. Rosululloh adalah seorang yang bertubuh kuat. Para sahabat sering berlindung di balik beliau karena yakin akan kekuatan fisik beliau. Bahkan para sahabat pernah meminta bantuan untuk memecahkan batu-batu keras yang tidak mempan oleh pukulan kapak.&lt;br /&gt;5. Persiapan maliyah (harta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi bukanlah segala-galanya dalam dakwah. Namun, ia diperlukan bagi kelangsungan dakwah. Tidak bisa dipungkiri, dalam berdakwah tentu membutuhkan sarana transportasi, alat komunikasi, dan sarana untuk mengakses berita seperti majalah, koran, internet, dsb. Bagi aktivis yang belum memiliki penghasilan dan masih bargantung kepada orang lain, misalnya orang tua, tentu ini sangat berat. Ketergantungan tersebut sedikit deni sedikit harus dikurangi. Karena ia tidak akan memiliki izzah (kemuliaan) jika ia akan selalu didikte olah orang yang memberikan dana. Jika sudah terbiasa bergantung kepada oranglain, ketika dana tersebut tiba-tiba dihentikan secara sepihak, ia akan kelabakan. Kenyataan hidup akan terasa begitu berat baginya. Perlahan-lahan idealismenya menjadi luntur dan selangkah demi selangkah mulai meninggalkan medan dakwah. NPU&lt;br /&gt;Sumber: yang tegar di jalan dakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by kaderisasi kammi bogor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-1750635635513206303?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/11/agar-tetap-tegar-di-jalan-dakwah.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SvixULV0LMI/AAAAAAAAAaI/gpk_antXmIo/s72-c/dakwah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-913773148870502137</guid><pubDate>Mon, 09 Nov 2009 09:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-16T07:50:28.043+07:00</atom:updated><title>Bersatulah, Jangan Seperti Orang-Orang yang Bercerai-Berai</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/St2I5L6x4aI/AAAAAAAAAZY/dMYoNOwRVO8/s1600-h/unity(1).jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/St2I5L6x4aI/AAAAAAAAAZY/dMYoNOwRVO8/s200/unity(1).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394618444692971938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Segala Puji hanya bagi Allah Rabb Semesta Alam. Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling agungnya nikmat dalam kebersamaan adalah bahwa adanya penyatuan hati dan ikatan hati di antara kita. Dan paling buruknya nikmat dalam suatu hidup kebersamaan adalah perpecahan dan bercerai-berai. Di sana banyak hadits dalam ilmu psikologis dan ilmu jiwa apa saja yang menyebabkan timbulnya perpecahan. Dan mereka telah meletakkan berbagai macam pemecahan untuk itu. Dan ketika kita melihat Al-Qur’an kita menemukan ini dalam suatu ayat. Itulah keadaan Al-Qur’an sebagai suatu mukjizat, ia mendatangkan dari berita yang besar dalam suatu kalimat efektif.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menyebutkan dari umat terdahulu yang telah mendahului kita. Mereka adalah kaum Nasrani, mereka mengikuti nabi Isa AS, lalu terjadi masalah besar dalam agama mereka. Itulah yang menyebabkan perpecahan dalam diri mereka. Dan ayat menggambarkan kondisi manusia. Hal ini berulang-ulang, dan menyebabkan pengulangan dalam setiap kejadian, di setiap zaman dan tempat, di setiap pertemuan, dan di setiap kebersamaan, terutama dalam setiap perkumpulan karena Allah SWT. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى أَخَذْنَا مِيثَاقَهُمْ فَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami ini orang-orang Nasrani”, Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.” (QS. Al Maidah: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pondasi utama dalam setiap kita berkumpul dan bersama. Kenapa Allah SWT menyebutkan ini dalam ayat ini? Agar tidak terjadi hal yang sama. Dan Allah menyebutkan kapan terjadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu kitab dikatakan bahwa di antara orang Nasrani, Allah SWT telah mengambil perjanjian di antara mereka. Mengambil perjanjian di sini maksudnya adalah orang itu mengenal atau mempunyai ilmu terhadap ajaran Allah SWT. Dan dia telah mengetahui tentang kewajiban terhadap Allah SWT serta mengetahui kewajiban dakwah. Dia telah mengetahui tentang sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya. Setiap apa yang kau ketahui itu sudah merupakan perjanjian terhadap Allah SWT. Dan di hari kiamat setiap orang akan ditanya tentang apa yang diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya (neraka), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu?” (QS. Al-Mulk: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS. Muhammad: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siapa yang tidak ikut terhadap Rasul padahal telah jelas kepadanya petunjuk? Barang siapa yang telah jelas kepadanya petunjuk tapi ia tidak komitmen kepada petunjuk tersebut, maka Allah akan menagih perjanjian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang terjadi? Terjadi bahwa sebagian jiwa manusia: LUPA. Melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Lupa mengandung dua makna dalam Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna pertama adalah tidak adanya ilmu. Seperti dalam surat Al-Kahfi bahwa sesungguhnya syaitan telah membuatnya lupa (QS. 18: 63). Inilah tidak adanya ilmu. Makna lupa yang kedua adalah meninggalkannya. Inilah yang dimaksud dengan yang di surat Al Maidah ayat 14 di atas. Maka barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang telah diketahuinya, itulah lupa. Seperti dalam suatu ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula).” (QS. At-Taubah: 67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meninggalkan ajaran Allah, mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah, dan mereka melalaikan perintah Allah. Kaum Bani Israil, mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Dikatakan dalam suatu ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَنَسُواْ حَظّاً مِّمَّا ذُكِّرُواْ بِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan (hazhzhan) yang telah diperingatkan kepada mereka (dzukkiruu bihi)” (QS. Al-Maidah: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hazhzhan”. Apa itu hazhzhan? Hazhzhan artinya adalah sebagian atau bagian kecil. Allah menjelaskan bahwa mereka telah meninggalkan sebagian kecil dari ajaran yang telah diingatkan kepada mereka. Inilah sebab terjadinya persatuan dan di sinilah sebab terjadinya perpecahan. Jadi ketika telah meninggalkan sebagian dari apa yang telah diajarkan kepada mereka, maka di sini sebab timbulnya perpecahan. Terutama dalam masalah-masalah besar yang menyangkut masalah pondasi agama, serta pegangan prinsip agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka …” (QS. Al-Maidah: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya أَغْرَيْنَا ? Apa artinya al-ighra? Al-Ighra artinya mendorong ulang. Artinya bahwa permusuhan menjadi sesuatu yang dia sukai. Maka dia menjadikan perpecahan itu sebagai sesuatu yang dia senangi. Apa sebabnya? Karena mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diingatkan dari Allah SWT kepada mereka. Inilah ringkasan dari seluruh persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti kita meninggalkan persoalan lain tapi ini masalah utama. Ketika kita ingin istiqamah dan kita ingin persatuan yang kuat dan kebersamaan yang kuat, maka hendaklah kita melihat makna ayat ini dan kita melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat: setiap diperintahkan mereka melaksanakan, setiap dilarang mereka meninggalkannya. Karena itu mereka bersatu. Maka dikatakan mereka seperti satu hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja orang kafir mengatakan, “Kami telah melihat teman-teman Kisra dan kaisar tapi kami tidak pernah menemukan seperti sahabat Muhammad”. Maka berkata salah seorang panglima di kisaran Qodisiyah bahwa orang-orang Islam telah belajar dari Muhammad. Inilah persatuan yang dibangun di atas pondasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pun orang yang pura-pura berbasa-basi, maka Allah SWT akan mengungkap kebasa-basian. Allah SWT tidak memperbaiki orang yang berbuat kerusakan. Dan Allah SWT tidak memberikan janji kepada orang-orang yang berkhianat. Dan sebaliknya, Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang shalih. Dan Allah menunjukkan jalan keluar bagi orang-orang beriman. Dan Allah menjauhkan keburukan dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap kamu menemukan dalam hati suatu keinginan untuk bersatu maka berarti Allah telah menginginkan kebaikan darinya. Dan kebalikannya – ini juga merupakan kebenaran – jika ada seseorang yang dalam dirinya ingin perpecahan-perpecahan berarti Allah menginginkan keburukan darinya. Karenanya Allah SWT mengingatkan janganlah engkau berpecah belah seperti orang terdahulu berpecah belah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas (al-bayyinat).” (QS. Ali Imran: 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah makna yang sama antara ذُكِّرُواْ بِهِ (dzukkiru bihi) dengan makna الْبَيِّنَاتُ (al-bayyinat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan itu jelas. Kebenaran itu jelas. Pondasi agama jelas. Iman dan seluruh rukun-rukunnya jelas. Tujuan semuanya telah nampak. Semua itu merupakan al-bayyinat. Kepadanya hati orang-orang beriman berkumpul. Dan kepadanya barisan orang-orang shalih berkumpul. Inilah jalannya orang-orang beriman sepanjang sejarah. Kita mohon kepada Allah SWT semoga kita tergolong orang-orang yang bertaqwa. (hdn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-913773148870502137?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/10/bersatulah-jangan-seperti-orang-orang.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/St2I5L6x4aI/AAAAAAAAAZY/dMYoNOwRVO8/s72-c/unity(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-8692479531975084620</guid><pubDate>Tue, 20 Oct 2009 09:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-16T07:49:47.923+07:00</atom:updated><title>Urgensi Bahasa Arab</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/St2H4p0Q-zI/AAAAAAAAAZQ/ctQLwbAInzk/s1600-h/800px-Learning_Arabic_calligraphy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/St2H4p0Q-zI/AAAAAAAAAZQ/ctQLwbAInzk/s200/800px-Learning_Arabic_calligraphy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394617336027216690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Abdul Rahman *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya� (QS. Yusuf : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu bahwa aku adalah orang Arab, bahwa al-Quran adalah bahasa Arab, dan bahasa penghuni syurga di dalam syurga adalah bahasa Arab� (HR. at-Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Bersemangatlah dalam mempelajari bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab adalah sebagian dari agamamu� (Umar Ibnul Khattab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;�Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syi�ar Islam� (Asy Syahid Imam Hasan Al Banna)&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian) sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia. Tidak seperti bahasa lain yang mudah tercemar seiring dengan globalisasi dan majunya peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar bahasa Arab memang sebuah keharusan yang layak dikuasai oleh umat Islam. Sebab sejak awal mula diturunkan ajaran Islam sampai hari ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Seseorang tak akan mampu memahami Islam dengan benar tanpa melalui kidah bahasa Arab. Menafsirkan al-Qur�an wajib menggunakan kaidah bahasa Arab, bukan dengan kaidah/tata bahasa-bahasa selainnya. Seorang muslim tak akan mungkin (mustahil) berpisah dari bahasa Arab. Untuk itu kita mempunyai kewajiban untuk terus berusaha medalami dan mensyi�arkannya dalam kehidupan sehari hari. Asy Syahid Hasan Al Banna telah mewasiatkan: �takallamul lughatal �arabiyatal fushkha fainnaha min sya�airil islam� (Berbicaralah dengan menggunakan bahasa Arab karena hal ini merupakan bagian dari syi�ar Islam). Shahabat Umar bin Khattab RA. pernah mengatakan: �ta�allamul lughatal �arabiyah fainnaha min diinikum� (Pelajarilah bahasa Arab karena dia adalah bagian dari dien kalian). Juga hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dengan sanad dari Malik: �Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab�.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran sebagai kitab suci abadi yang menghapus semua kitab suci yang pernah ada, diturunkan dalam bahasa Arab. Rasulullah SAW sebagai nabi akhir zaman yang risalahnya berlaku untuk seluruh manusia di muka bumi sampai akhir zaman, juga berbahasa Arab, tanpa pernah diriwayatkan mampu berbahasa selain Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits nabawi diriwayatkan secara berantai hingga sampai kepada kita melewati masa berabad-abad, juga tertulis dalam bahasa Arab. Bahkan semua kitab yang menjelaskan materi Al-Quran, As-Sunnah serta syariah Islamiyah hasil karya para ulama muslim sedunia sepanjang masa, juga kita warisi dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bandingkan antara jumlah orang awam dan jumlah para ulama, kita akan menemukan perbandingan yang jauh dari proporsional. Dengan kata lain, ulama di masa sekarang ini termasuk `makhluk langka` bahkan nyaris punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan atas jasa mereka selama ini, namun kenyataanya bahwa kebanyakan tokoh agama serta para penceramah yang kita dapati masih minim dari penguasan secara mendetail dalam kisi-kisi ilmu syariah. Tidak sedikit dari mereka yang sama sekali buta bahasa Arab. Dan otomatis rujukan satu-satunya hanya buku terjemahan saja. Bahkan ketika membaca Al-Quran pun tidak paham maknanya. Apalagi membaca hadits-hadits nabawi. Dan jangan ditanya bagaimana mereka bisa merujuk kepada kajian syariah Islam dari para fuqaha sepanjang sejarah, karena nyaris semua literaturnya memang dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita bisa pikirkan sendiri bagaimana kualitas umatnya bila para tokoh agama pun masih dalam taraf yang kurang membahagiakan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka memperbanyak jumlah ulama serta menyebar-luaskan ilmu-ilmu syariah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi mendalami ilmu-ilmu syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah: 122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, keinginan anda untuk belajar bahasa Arab dan menguasainya adalah sebuah keinginan yang teramat mulia, sehingga perlu didukung penuh. Jangan sampai keinginan itu berhenti hanya karena alasan teknis semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat Dimensi Penguasaan Bahasa Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menguasai bahasa Arab itu minimal harus menguasai empat sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fahmul Masmu'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya kita harus mampu memahami apa yang kita dengar. Jadi kalau ada orang Arab membacakan berita di TV atau sedang berdialog, kita mampu mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fahmul Maqru'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya kita harus mampu memahami teks yang kita baca. Sehingga buku, kitab, majalah, koran atau teks apapun yang tertulis dalam bahasa Arab, mampu kita pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ta'bir Syafahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya kita mampu menyampaikan isi pikiran kita dalam bahasa Arab secara lisan, dimana orang Arab mampu memahami apa yang kita ucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ta'bir Tahriri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya kita mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang Arab dengan bentuk tulisan, dimana orang Arab bisa dengan mudah memahami maksud kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika Belajar Bahasa Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum anda menentukan pilihan pada lembaga mana anda akan percayakan program belajar bahasa Arab anda, sebaiknya anda juga belajar dari beberapa pengalaman mereka yang pernah melakukannya sebelumnya. Juga tidak ada salahnya kalau anda juga mendengarkan pengalaman mereka, baik telah sukses maupun yang gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya memang harus diakui bahwa tekad kuat untuk belajar bahasa Arab, terutama buat kalangan muda muslim yang tidak pernah mengecap pendidikan pesantren berbahasa Arab, seringkali kandas di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta pernah berdiri puluhan ma'had dan lembaga kursus yang mengajarkan bahasa Arab. Sayangnya, kebanyakan keberhasilannya berjalan terseok-seok, kalau tidak mau dikatakan gagal total. Umumya kurang berhasil dalam mengantarkan para siswanya untuk menjadi orang yang mahir bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, alasan paling klasik adalah lamanya masa belajar dan rasa bosan yang dengan cepat menghantui para pelajar. Apalagi ditambah dengan padatnya aktiftitas peserta di luar jam kurus, sehingga biasanya lembaga kursus itu menyelenggarakan pengajaran bahasa dengan cara non-intensif. Kursus diselenggarakan seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Sekali pertemuan hanya 2 atau 3 jam saja. Dilihat dari sisi keintensifannya saja, sudah terbayang kegagalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu kemudian diperparah kualitas pengajar yang umumnya juga orang Indonesia, di mana secara teori mungkin menguasai dasar-dasar gramatika bahasa Arab, tetapi secara dzauq (taste), kemampuan mereka amat terbatas. Banyak sekali para pengajar yang mampu berbicara dalam bahasa Arab, namun dengan ta'bir (cara pengungkapan) yang bukan digunakan oleh orang Arab. Sehingga orang Arab sendiri pun kalau mendengarnya agak berkerut-kerut dahinya sampai 10 lipatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kurikulum pengajaran pun seringkali malah menjadi faktor penghalang besar. Yaitu ketika para peserta dijejali dengan berbagai macam aturan, rumus, kaidah dan tetek bengeknya, tapi kurang praktek langsung. Bisa jadi secara teori mereka sangat paham, tapi giliran harus menggunakan bahasa itu baik secara lisan, tulisan atau pendengaran, semua jadi berantakan alias gagal total. Kasusnya mirip dengan orang yang belajar berenang secara teoritis, menguasai aturan gaya bebas, gaya kupu-kupu, gaya katak dan lainnya. Tapi giliran masuk kolam, tenggelam dan tidak timbul-timbul lagi. Sungguh menyedihkan memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa adalah Aplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat belajar suatu bahasa yang paling baik bukan di dalam sebuah lembaga kursus, juga bukan di dalam sebuah kelas. Tempat belajar yang paling baik adalah di tempat dimana semua orang berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda ingin pandai bahasa Jawa, sebaiknya anda tinggal selama beberapa tahun di Jogjakarta atau di Solo. Terutama di pedesaan dimana masyarakat dengan setia menggunakan bahasa Jawa. Di sana anda bukan hanya belajar kosa kata jawa, tetapi juga mendengar, melihat, memperhatikan, menirukan, serta beradaptasi secara langsung dengan cara komunikasi orang jawa. Sebab bahasa itu bukan sekedar kosa kata, tetapi termasuk juga tutur bahasa, cara mengungkapkan, cara melafalkan, bahkan termasuk bahasa tubuh, mimik dan intonasi. Dan semua bermula dari mendengar setiap saat ucapan. Pagi, siang, sore dan malam hari yang anda dengar hanya percakapan orang-orang dalam bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah cara belajar bahasa yang paling alami, paling mudah dan paling berhasil. Cara ini telah melahirkan jutaan anak-anak berusia 1 tahun hingga 5 tahun yang mahir berbahasa Jawa. Jangan kaget, kalau di Jogja dan Solo, rata-rata anak kecil mahir berbahasa Jawa (?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan kaget juga kalau di Mesir dan negeri Timur Tengah lainnya, anak-anak mahir berbahasa Arab. Kalau anak kecil saja mahir berbahasa Arab, mengapa anda yang sudah dewasa tidak bias bahasa Arab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya adalah bahwa belajar bahasa itu membutuhkan sebuah komunitas orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa itu. Dimana kita ada di dalamnya dan ikut berinteraksi secara aktif. Demikianlah kaum muslimin sedunia telah disatukan dan dipersaudarakan dengan satu bahasa, bahasa Arab. Kita akan jaya dengan bahasa Arab. (ars16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-8692479531975084620?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/10/urgensi-bahasa-arab.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/St2H4p0Q-zI/AAAAAAAAAZQ/ctQLwbAInzk/s72-c/800px-Learning_Arabic_calligraphy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-4363023302988544177</guid><pubDate>Wed, 14 Oct 2009 00:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-14T07:29:55.465+07:00</atom:updated><title>Kami Adalah Da'i</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/StUbdur0AYI/AAAAAAAAAZI/Ji8Umz07xd8/s1600-h/mentoring.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/StUbdur0AYI/AAAAAAAAAZI/Ji8Umz07xd8/s200/mentoring.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392246326407987586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah&lt;br /&gt;2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran&lt;br /&gt;3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas&lt;br /&gt;4. Bertahap dalam pembebanan tugas&lt;br /&gt;5. Mempermudah, bukan mempersulit&lt;br /&gt;6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)&lt;br /&gt;7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman&lt;br /&gt;8. Memahaman, bukan mendikte&lt;br /&gt;9. Mendidik bukan menelanjangi&lt;br /&gt;10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-4363023302988544177?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/10/kami-adalah-dai.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/StUbdur0AYI/AAAAAAAAAZI/Ji8Umz07xd8/s72-c/mentoring.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-3370349288896556349</guid><pubDate>Fri, 02 Oct 2009 11:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-02T18:34:37.581+07:00</atom:updated><title>Musibah dan Taubat Berjama’ah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SsXkBjicScI/AAAAAAAAAZA/w3KC7_oRthY/s1600-h/berdoa_web.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 144px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SsXkBjicScI/AAAAAAAAAZA/w3KC7_oRthY/s200/berdoa_web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5387963244589369794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com - Gempa 7,6 SR. menggunjang Sumatera Barat, pada Rabu 30 September 2009 sore hari. Sampai tulisan ini diturunkan lebih dari 200 jiwa meninggal dunia. Belum selesai rasa belasungkawa bangsa Indonesia dengan kejadian itu, gempa kembali menggunjang Jambi dan Bengkulu dengan kekuatan yang hampir sama, 7,0 SR. Semua warga yang mengalami musibah tersebut histeris, bingung, bahkan pingsan tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian serupa juga belum lama lewat dari perasaan dan ingatan kita, gempa dengan kekuatan 7,5 SR. mengguncang Jawa Barat. Dari semua kejadian itu, kerugian materiil tidak terhitung jumlahnya, sangat besar sekali. Pemerintah pun akhirnya mengeluarkan anggaran untuk bencana dari APBN yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika musibah itu menjauh dari kita, tentu anggaran bencana itu bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lain, hajat primer masyarakat yang masih sulit ekonominya, untuk membayar hutang dan tentu untuk membangun kembali Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana musibah itu bisa menjauh dari kita? Atau, agar kita menjadi negeri yang aman, damai dan terhindar dari bencana, apa yang perlu kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua jenis musibah yang terjadi adalah akibat kesombongan, kesalahan, dosa, dan kemaksiatan yang dilakukan manusia, bahkan karena perilaku manusia yang tidak menghiraukan aturan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash menceritakan ketika turun surat Al-Zilzal (gempa), Abu Bakar sedang duduk terpaku kemudian menangis. Rasulullah saw. bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Abu Bakar? Ia menjawab: “Surat ini membuatku menangis” maka Rasulullah saw. bersabda: “Seandainya kalian tidak melakukan kesalahan dan tidak berdosa, dan Allah mengampuni kesalahan kalian, pasti Allah akan menciptakan umat lain yang bersalah dan berdosa, mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka.” Ibnu Jarir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Hati-hati perilaku meremehkan dosa dan kesalahan, karena ketika dosa dan kesalahan berhimpun pada diri seseorang, dosa dan kesalahan itu akan menghancurkannya.” Imam Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun kita, apakah politisi, penyelenggara negara, wakil rakyat “yang hari ini, 1 Oktober 2009 akan dilantik”, pegiat media massa, artis, public figur, ulama, atau siapapun kita, hendaknya merenung dengan penuh kerendahan diri, bahwa ada “Kekuatan” yang Maha Dahsyat yang bisa berkehendak untuk menjadikan bumi, laut, gunung dan makhluk lain-Nya menunjukkan “ketidak senangannya terhadap manusia”, hanya dengan berfirman: “Kun Fayakun.  Gempa, maka terjadilah gempa yang dahsyat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kesombongan, kesalahan, dosa, kemaksiatan yang dilakukan manusia, bahkan perilaku manusia yang tidak menghiraukan aturan Tuhan, menghalalkan segala cara menjadi penyebab terjadinya suatu bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian hebat itu menjadi pengingat dan nasehat secara langsung bagi siapa saja yang masih punya hati nurani dan iman di dada. Ada Dzat yang Maha Kuasa yang memberi peringatan kepada setiap manusia yang boleh jadi kembali pada “habitatnya” setelah satu bulan Ramadhan mendekat pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat dan kembali kepada Allah swt. harus segera dilakukan oleh seluruh komponen anak bangsa ini, agar alam sekitar bersababat, bahkan memberikan manfaat dan kesejahterahan bagi umat manusia. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-3370349288896556349?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/10/musibah-dan-taubat-berjamaah.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SsXkBjicScI/AAAAAAAAAZA/w3KC7_oRthY/s72-c/berdoa_web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-2246620941888038200</guid><pubDate>Mon, 14 Sep 2009 07:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-14T14:11:14.449+07:00</atom:updated><title>Ketika Aktivis Dakwah Bercinta</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sq3sh6dghnI/AAAAAAAAAYw/9SgzBx_LEIY/s1600-h/sekretgl7.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sq3sh6dghnI/AAAAAAAAAYw/9SgzBx_LEIY/s200/sekretgl7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381217197150471794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cinta aktivis dakwah adalah cinta seorang hamba dengan spectrum yang luas. Ia melihat kehidupan dengan cinta. Setiap hari, ketika Allah berikan kesadaran dan memasukkannya ke dalam perputaran kehidupan, ia menjalaninya dengan cinta. Apa yang membuat seorang menjadi resah dengan penyimpangan kehidupan. Apa yang menghalangi seorang dari tidur dan istirahat untuk mengurus urusan umat yang kompleks ini. Apa yang membuat seorang rela membelanjakan hartanya, meskipun ia sendiri tidak berharta lebih, untuk meringankan beban saudaranya. Semua itu adalah spectrum cinta aktivis dakwah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cinta aktivis dakwah adalah cinta yang lahir dari kerja keras menjaga rasa sayang Allah swt kepadanya. Ia membingkai kehidupannya dengan frame cinta yang hakiki. Masalah terbesarnya adalah jika Allah murka dengan semua rasa dan amalnya. Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika Allah merahmati perasaan dan amalnya. Di dalam frame itulah ia menjalankan pentas kehidupannya. Maka ketika ia jatuh cinta, cinta itu membawanya kepada ketaatan. Cinta itu menghantarkannya kepada amalan-amalan yang membuat Allah semakin cinta kepadanya. Ketika ia jatuh cinta, cinta itu membentenginya dari perbuatan ingkar dan penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta aktivis dakwah menghantarkannya kepada kehidupan yang berkah dan penuh rahmat. Ia mengijinkan perasaannya tumbuh dan berbunga hanya dalam bingkai ketaatan. Ketika cinta lawan jenis hadir dalam dirinya, maka itu pun tidak lepas dari komitmen menjaga hak-hak Allah di dalam cinta tersebut. Ia mempersembahkan cinta itu untuk orang yang memberinya jaminan cinta tersebut adalah berkah dan penuh rahmat. Ia menjalankan cinta tersebut dengan murakobah yang ketat. Ia selalu yakin, Allah memberikan pendamping yang baik sesuai kualitas kebaikan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta aktivis dakwah bukanlah cinta dusta. Yang berlindung dengan pernyataan, Allah tahu niat saya baik, tapi kemudian melakukan penyimpangan amal. Bukan cinta yang bisu dari pernyataan taushiah dan tuli dari bisikan kebaikan. Bukan cinta yang melenakan dan menjerumuskan kepada kehidupan yang meresahkan. Bukan cinta yang diobral dengan hiasan kemaksiatan dan sekedar mengejar sebuah tuntutan social. Cinta aktivis dakwah bukan cinta dalam 30 hari mencari cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta aktivis dakwah adalah cinta yang terang seterang matahari. Ia penuh dengan ketulusan dan bukan basa-basi. Ia jelas dengan perangkat yang tidak menyimpang dari statusnya sebagai hamba. Cintanya bukan sekedar kedekatan, melainkan juga tanggung jawab. Bukan sekedar romantika dunia, melainkan sendung mulia penduduk langit. Jelas, terang, dan tidak ada sedikit pun yang disembunyikan. Cinta aktivis dakwah tidak membutuhkan pertanyaan Ada apa dengan Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta aktivis dakwah ada dalam tingkatan ketaatan, Allah Sang Raja, Rasulullah Sang kekasih, Perjuangan yang dirindukan, dan Pasangan hidup yang menyejukkan pandangan, serta anak-anak saleh dan salehah sebagai bunga dan buahnya. Cinta tulus, cinta murni, cinta yang hidup dan menghidupkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Ahmad Fahmi ( cyberdakwa.net )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-2246620941888038200?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/09/ketika-aktivis-dakwah-bercinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sq3sh6dghnI/AAAAAAAAAYw/9SgzBx_LEIY/s72-c/sekretgl7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-6835174538211420560</guid><pubDate>Wed, 09 Sep 2009 23:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-10T06:47:24.948+07:00</atom:updated><title>Syurga dalam Seteguk Air</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sqg-f_19QUI/AAAAAAAAAYo/XC1vI6jNjx8/s1600-h/f_air2m_077e6b6.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 173px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sqg-f_19QUI/AAAAAAAAAYo/XC1vI6jNjx8/s200/f_air2m_077e6b6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379618474328670530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – â€œTuan-tuan saya akan puaskan keinginan tuan, selama saya bisa menghilangkan haus dan lapar saya dan bisa keluar dari padang pasir ini.â€  Wanita itu menggeretakkanÂ giginya saat meminta sekantong air dari rombongan kafilah yang melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar mentari berangsur lenyap tersapu malam, kegelapan merangkak naik untuk bertahta, ketika sebagian besar mata sudah harus diistirahatkan, ketika itu sebagian manusia masih harus berjibaku dengan perjuangan terhadap nasib. Maka sebagian manusia berubah wajah. Mereka menanggalkan topeng religiusnya, mereka juga melepaskan semua jubah sosialnya. Dengan wujud asli, entah sebagai setan atau apa. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian menjadi sosok pelacur, maling atau rampok, yang mencoba mengadu keberuntungan di antara kerasnya sejarah yang terus bergulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak senja mulai menjelang, wanita lacur itu memulai aktivitasnya dengan bersolek di depan cermin. Memoles diri dengan make up dan gincu. Dengan sedikit kemanjaan mungkin, karena ia sempat membayangkan betapa tidak bernilainya hidup yang harus melayani ‘Syahwat’ para hidung belang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di benaknya, ia akan merasa lega kalau bisa secepatnya keluar dari kungkungan nasib buruk yang menderanya. Tak ada pilihan, yang ada hanya bagaimana bisa bertahan hidup dengan cara apapun. Kehidupannya sudah benar-benar tak menentu. Semua laki-laki di kampungnya banyak yang telah meninggalkan rumah dan keluarga mereka, entah pergi ke mana. Pelacuran tumbuh di mana-mana. Setiap orang harus mempertahankan dirinya dari serangan lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman itu banyak terjadi kerusakan karena ulah kaisar Romawi yang zalim. Kelaparan dan kemisikinan merajalela di negeri Palestina. Berbagai cara dilakukan rakyat terutama para kaum miskin untuk melawan kelaparan dan kemiskinan itu. Seorang ibu terpaksa menjual anaknya seperti menjual pisang goreng. Perampokan, pembunuhan, penganiayaan tak kenal peri kemanusiaan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan muda itu terlihat terlalu tua dibandingkan dengan usia sebenarnya. Wajahnya kuyu diguyur penderitaan panjang. PadangÂ pasir yang kering dan gersang telah mengubah gaun putih miliknya menjadi jubah berwarna hitam dengan renda ungu tua di tepian jubah. Ia mulai menawarkan diri kepada siapa saja yang mau, meski dengan harga yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu dilaluinya tanpa seorangpun yang menjamah dirinya. Padahal ia terus berusaha melenggak-lenggok menawarkan diri. Namun para lelakiÂ  yang ditemuinya malah menjauhinya. Bila bertemu dengan perempuan tersebut, mereka melengos menjauhinya karena jijik melihatnya. Tidak ada daya tarik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pagi mulai menampakkan diri. Baginya kedatangan siang adalah penderitaan, karena tak berbekal apapun. Ia tidak mempunyai keluarga, kerabat ataupun sanak saudara. Sementara hari itu harus dilaluinya tanpa makanan dan minuman. Namun perempuan itu tidak peduli, karena pengalaman dan penderitaan mengajarinya untuk bisa tabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala ejekan dan caci maki manusia diabaikannya. Ia berjalan dan berjalan, seolah tak ada pemberhentiannya. Ia tak pernah yakin, perjalanannya akan berakhir. Namun sepanjang jalan itu sunyi saja, sementara panas masih terus membakar dirinya. Entah sudah berapa jauh ia berjalan, namun takÂ  seorangpun yang mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjalan dan terus berjalan hingga rasa lelah menyerangnya. Udara panas padang pasir dan debu bercampur dengan peluh yang terus mengalir dari tubuhnya. Ia berjalan tertatih tatih dan akhirnya terseok seok menapaki padang pasir. Ia melihat oase yang membentang di hadapannya. Semangatnya pun terus menyala demi mencapai oase itu. Tak berapa lama tubuhnya sudah bersandar pada sebatang pohon palem. Ia menghirup dalam dalam kesejukan oase itu. Hingga ia tersedak saat mendengar seseorang berteriak padanya. Mengusir dirinya agar tidak mendekat sumber air milik orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang pasir sahara itu memang sangat luas, mencakupÂ sepertiga wilayah bumi ini. Kering dan berpasirÂ  karena rendahnya angka hujan maka suhu pada siangÂ hari begitu menyengat dan bisa membuat otak mendidih, konon karena sakingÂ  panasnya, orang-orang gurun biasa memanggang roti hanya dengan dikubur di pasir dan roti akan matang dan hasilnya tidak kalah nikmat dari yang dibakarÂ  di dalam oven, baunya yang semerbak harum akan terbawa angin kemana-mana dan membelai hidung orang-orang yang kebetulan lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata perjuangannya untuk mendapatkan air belum berakhir. Lalu dia pun melanjutkan perjalanannya sambil menahan haus dan lapar sekaligus memberi semangat pada dirinya. Dadanya terasa sesak dengan nafas yang terengah-engah kelelahan yang amat sangat. Betapa lapar dan hausnya iaâ€¦&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rasa haus dan laparnya tak tertahankan lagi, sayup-sayup ia mendengar suara lonceng unta, ia bertemu dengan serombongan pedagang yang berjalan ke arah lain di padang pasir. Di atas pundak unta rombongan pedagang itu tergantung sekantong air. Ia meminta sedikit air pada rombongan pedagang itu, namun kafilah itu tidak bersedia memberikan airnya. Kafilah-kafilah itu hendak menjual airnya dengan mahal, sebab di padang pasir, air sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu mengumpulkan sisa tenaga sebisanya untuk merayu para kafilah itu. Dia rela menukar dirinya dengan sekantong air itu. Para kafilah kemudian menjadi ragu. Mereka berpikir, harga wanita itu tidak sebanding dengan air miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mereka juga takut air persediaannya akan terbuang. Wanita itu menggeretakkanÂ giginya, lalu berkata pada kafilah itu, â€œTuan-tuan saya akan puaskan keinginan tuan, selama saya bisa menghilangkan haus dan lapar saya dan bisa keluar dari padang pasir ini.â€&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafilah itu tidak mempedulikannya. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan sambil memacu unta tunggangannya. Kafilah itu menertawakannya sembari berkata : â€œDasar perempuan sial, perjalanan kami masih sangat panjang baru bisa keluar, bagaimana mungkin kami membagi air kepada orang macam kau.â€ Ia tidak peduli dengan ejekan kafilah itu, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak ada air, ia merasa tenggorokannya kering, kepalanya pusing mata berkunang-kunang, lemas tidak bertenaga. Namun ia tetap bersikeras terus berjalan,Â  kemudian, ia merasa dirinya hampir tidak sanggup bertahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan nampak bayang-bayang air, seolahÂ ada lautan, sedang banjirkah? Namun saat mendekat ternyata tidak ada air, hanya ilusi. Jalan di depannya masih tetap meninggalkan pemandangan seolah ada genangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di saat itu, kembali ia mendengar lonceng unta, lagi-lagi serombongan kafilah padang pasir berlalu di sisinya. Lalu ia meminta minum pada kafilah ini. Tapi kafilah ini hanya ingin menjual airnya lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â€œHei, mana ada orang yang akan mempedulikan kau, perempuan pembawa sial, bisa keluar hidup-hidup itu sudah bagus!â€ Kafilah itu berseru sambil tertawa mengejek, namun wanita itu tidak peduli dan terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, dalam keadaan tidak adanya air, ia berusaha dengan susah payah berjalan sampai di ujung padang pasir. Sampailah ia di sebuah desa yang sunyi. Desa itu sedemikian gersangnya hingga sehelai rumputpun tak tumbuh lagi. Perempuan lacur itu memandang ke arah kejauhan. Matanya nanar melihat kepulan debu yang bertebaran di udara. Kepalanya mulai terasa terayun-ayun dibalut kesuraman&lt;br /&gt;wajahnya yang kuyu. Tapi, karena sudah lemas di saat demikian, tidak ada lagi tenaga untuk melangkah. Akhirnya ia terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan dan rasa hausnya yang sangat itu, ia melihat sebuah sumur di batas desa yang sepi. Sumur itu ditumbuhi rerumputan dan ilalang kering dan rusak di sana-sini. Wanita itu mencoba mendekat untuk memastikan bahwa yang dilihatnya bukan fatamorgana. Ia menepi di pinggirnya sambil menyandarkan tubuhnya yang sangat letih. Rasa hauslah yang membawanya ke tepi sumur tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat ia menjengukkan kepalanya ke dalam sumur tua itu. Tak tampak apa-apa, hanya sekilas bayangan air memantul dari permukaannya. Mukanya tampak menyemburat senang, namun bagaimana harus mengambil air sepercik dari dalam sumur yang curam? Perempuan itu kembali terduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia melepaskan stagennya yang mengikat perutnya, lalu dibuka sebelah sepatunya. Sepatu itu diikatnya dengan stagen, lalu dijulurkannya ke dalam sumur. Ia mencoba mengais air yang hanya tersisa sedikit itu dengan sepatu kumalnya. Betapa hausnya ia, betapa dahaganya ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang tersisa sedikit dalam sumur itu pun tercabik, lalu ia menarik stagen itu perlahan-lahan agar tidak tumpah. Namun tiba-tiba ia merasakan kain bajunya ditarik-tarik dari belakang. Ketika ia menoleh, dilihatnya seekor anjing dengan lidahnya terjulur ingin meloncat masuk ke dalam sumur itu. Sang pelacur pun tertegun melihat anjing yang sangat kehausan itu, sementara tenggorokannya sendiri serasa terbakar karena dahaga yang sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepercik air kotor sudah ada dalam sepatunya. Kemudian ketika ia akan mereguknya, anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya sambil merintih. Pelacur&lt;br /&gt;itupun mengurungkan niatnya untuk mereguk air itu. Dielusnya kepala hewan itu dengan penuh kasih. Si anjing memandangi air yang berada dalam sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ia menarik napas panjang sambil berkata : â€œAnjing ini hampir mati kehausan.â€&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perempuan itu meregukkan air yang hanya sedikit itu ke dalam mulut sang anjing. Air pun habis masuk ke dalam mulut sang anjing, dan perempuan itu&lt;br /&gt;pun seketika terkulai roboh sambil tangannya masih memegang sepatuâ€¦&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perempuan itu tergeletak tak bernafas lagi, sang anjing menjilat-jilat wajahnya, seolah menyesal telah mereguk air yang semula akan direguk perempuan itu. Pelacur itu benar-benar telah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa luar biasa, bukan sekedar adegan wanita pelacur merelakan seteguk air untuk seekor anjing yang sama-sama kehausan. Tapi wanita itu telah melepaskan keterikatan jiwanya terhadap ikatan-ikatan duniawiyah. Ya, dalam perjalanan hidup ini, jika ada padang pasir yang sama, kita baru bisa keluar hanya dengan melepaskan keterikatan ini. Harta bendaÂ bisa dicari, tapi kesempatan untuk mendapatkan akhir hidup yang baik, itu yang sulit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kadang kala letih didera cambukan ‘nasib’ yang terus bergerak layaknya ombak yang menghempas bebatuan cadas. Hanya saja tak ada pilihan untuk menghentikan perjalanan itu. Roda yang berputar sangat deras, dan manusia takkan mampu menghentikan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Hurairah r.a. dari Rasulullah saw berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-6835174538211420560?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/09/syurga-dalam-seteguk-air.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sqg-f_19QUI/AAAAAAAAAYo/XC1vI6jNjx8/s72-c/f_air2m_077e6b6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-5042029410469306314</guid><pubDate>Sat, 05 Sep 2009 05:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-05T12:39:44.030+07:00</atom:updated><title>Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SqH5keoGjQI/AAAAAAAAAYY/RGVljqVmMZI/s1600-h/hijaab.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SqH5keoGjQI/AAAAAAAAAYY/RGVljqVmMZI/s200/hijaab.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377853835148954882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  yang hidup mendampingi  beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la.1 Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku muslimah yang merindukan surga Firdaus al-A’la…Shahabiyah yang mulia ini memandang buruk terhadap apa yang di lakukan wanita terhadap pakaian yang mereka kenakan yang masih menampakkan gambaran bentuk tubuhnya. Apa yang beliau tidak sukai itu beliau sampaikan kepada Asma radiayallahu’anha sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan  tubuhnya.” Asma’ berkata : ‘”Wahai putri Rasulullah maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?” Lalu Asma’ membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: “Betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali (dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma’ bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu ) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!” Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma’ yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan. ”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Albani rahimahullah berkata : Perhatikanlah sikap Fatimah radiyallahu anha yang merupakan  bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu alaihi wassalam bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain. Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah yang dirahmati Allah,…benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Fitnah yang melanda kaum muslimah begitu deras dan hebat.Jika Fathimah radiyallahu’ anha saja tidak rela jasadnya tergambar bentuk tubuhnya tentulah dapat kita fahami bagaimana beliau mengenakan jilbab di masa hidupnya. Karena beliau sangat memahami perintah jilbab dengan pemahaman yang benar dan sempurna. Pemahaman beliau yang sangat mendalam ini jelas tersirat dari ketidaksukaannya yang beliau pandang sebagai suatu keburukan apabila seorang wanita memakai pakaian yang dapat menggambarkan lekuk tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bandingkanlah dengan apa yang dikenakan oleh sebagian kaum muslimah dewasa ini sangat jauh dari apa yang disyariatkan oleh Rabb mereka. Jauh panggang dari api.Mereka menisbahkan pakaian wanita dengan kerudung ala kadarnya yang sekedar menutupi leher-leher mereka tidak sampai menutupi dada dengan nama pakaian islami atau jilbab. Dan ironisnya yang memakainyapun  merasa bahwa apa yang mereka pakai itu sudah benar karena melihat  para artis di TV mengenakan yang demikian itu jadilah pakaian trendy ini menyebar begitu cepat dan menjadi pakaian pilihan utama mereka. Bahkan tentu terkadang kita melihat saudari kita yang memakai busana muslimah yang justru menambah fitnah karena nampak jelasnya lekuk tubuh mereka dengan penutup kepala yang melilit di leher (sehingga jenjang atau tidaknya bentuk leher terlihat sangat jelas) dan hanya sampai di bagian pundak saja tidak sampai ke dada disambung dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk payudara mereka kemudian  celana ketat yang menambah jelas  lekukan tubuh mereka. Ada juga yang memakai abaya (gamis/pakaian terusan) memilih ukuran yang ketat daripada ukuran besar dan lapang dengan alasan agar nampak cantik dan modis! Sebagian adapula yang memakai penutup kepala dengan menyanggul rambut-rambut mereka hingga ketika mereka berjalan dapat dilihat dengan jelas ikatan rambut tersebut, karena sangat kecilnya penutup kepala yang mereka pakai maka merekapun mengikat rambut tersebut agar tidak menyembul keluar. Bukankah apa yang mereka pakai itu semua  justru yang semestinya mereka jauhi karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits lain terdapat tambahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.”5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lihatlah penjelasan dari Ibnu Abdil Barr rahimahullah ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     “Yang dimaksud Nabi shalallahu alaihi wassalam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.”6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi ‘Aisyah dengan mengenakan khimar(kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu ‘Aisyah pun tak berkenan melihatnya dan berkata : “Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nuur?!” Kemudian ‘Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya.7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Albani menjelaskan perkataan Aisyah radiyallahu anha : Apakah kamu tidak tahu tentang apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat An-Nuur? Mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah Subahnahu wa ta’ala yang ditunjukkan oleh Aisyah radiyallahu anha yaitu “Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka”8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita melihat perbedaan yang sangat jauh antara generasi Shahabiyah dengan kita? Mereka benar-benar menjadikan jilbab sebagai penutup tubuh dan aurat sebagai bentuk ketaatan pada perintahNya sedangkan kita justru sebaliknya menjadikan jilbab sebagai pembuka fitnah kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah. Jilbab yang difahami shahabiyah sebagai pakaian yang lapang (lebar) yang menutupi tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki sedangkan kaum muslimah sekarang menganggap jilbab adalah secarik kain yang digunakan untuk menutupi rambut mereka saja sedangkan bagian-bagian lainnya mereka tutupi dengan bahan yang ala kadarnya yang tidak bisa dikatakan menutupi aurat apalagi menutupi lekuk tubuh mereka. Kepada Allahlah kita memohon pertolongan semoga kaum kita mau kembali kepada Rabb mereka dan  berusaha untuk  menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya secara sempurna dan menyeluruh. Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Al-Baqarah :208).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bish-shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini telah di cek oleh : Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Rujukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jilbab Wanita Muslimah menurut Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani,Pustaka Tibyan,Solo.&lt;br /&gt;   2. Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-mundziri, Pustaka Amani, Jakarta.&lt;br /&gt;   3. Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, Mahmud al-Istanbuli, Pustaka Tibyan, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hadits yang di riwayatkan Bukhari V/137 dan Muslim no.2450 yang berbunyi :“Wahai Fatimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita disurga?….”[Lihat Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal :127-128] [↩]&lt;br /&gt;   2. dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah 2/43, Al Bayhaqi 3/34-35 untuk lebih jelasnya bisa di lihat dalam Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin AlBani, hal 140-141 [↩]&lt;br /&gt;   3. Jilbab Wanita muslimah hal: 140 [↩]&lt;br /&gt;   4. dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam “Al-Mu’jam As-Shaghir” hal. 232 dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih lihat jilbab wanita muslimah hal :130 [↩]&lt;br /&gt;   5. HR.Muslim dari riwayat Abu Hurairah hadits no.1388 [↩]&lt;br /&gt;   6. dikutip oleh As-Suyuthi dalam “Tanwirul Hawalik” 3/103 lihat Jilbab Wanita Muslimah hal:131 [↩]&lt;br /&gt;   7. Ibnu Sa’ad 8/47 lihat Jilbab Wanita Muslimah hal 131 [↩]&lt;br /&gt;   8. idem hal 131 [↩]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-5042029410469306314?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/09/fathimah-radiyallahu-anha-memahami-arti.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SqH5keoGjQI/AAAAAAAAAYY/RGVljqVmMZI/s72-c/hijaab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-3412802478054170601</guid><pubDate>Fri, 04 Sep 2009 01:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-04T08:46:42.775+07:00</atom:updated><title>Delapan Tanda Orang Ikhlas</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SqBxeAgUmAI/AAAAAAAAAYQ/PHS2wUlDB0Q/s1600-h/ikhlas.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 155px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SqBxeAgUmAI/AAAAAAAAAYQ/PHS2wUlDB0Q/s200/ikhlas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377422715425953794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua Syarat Amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com – Amal yang kita lakukan akan diterima Allah jika memenuhi dua rukun. Pertama, amal itu harus didasari oleh keikhlasan dan niat yang murni: hanya mengharap keridhaan Allah swt. Kedua, amal perbuatan yang kita lakukan itu harus sesuai dengan sunnah Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya saat melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rasulullah saw. bersabda, “Innamal a’maalu bin-niyyaat, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah swt. sangat bergantung pada niat kita.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan syarat yang kedua, harus sesuai dengan syariat Islam. Syarat ini menyangkut segi lahiriah. Nabi saw. berkata, “Man ‘amala ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun, barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami diperintahkan, maka perbuatan itu ditolak.” (Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang dua syarat tersebut, Allah swt. menerangkannya di sejumlah ayat dalam Alquran. Di antaranya dua ayat ini. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh….” (Luqman: 22). “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa: 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” di dua ayat di atas adalah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang yang dimaksud dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan Tanda Keikhlasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari iming-iming kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung ornag lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, ucapan para ulama tersebut bukan menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah). Ucapan itu adalah peringatan agar dalam mengarungi kehidupan kita tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat pujian manusia. Apalagi, para nabi dan orang-orang saleh adalah orang-orang yang popular. Yang dilarang adalah meminta nama kita dipopulerkan, meminta jabatan, dan sikap rakus pada kedudukan. Jika tanpa ambisi dan tanpa meminta kita menjadi dikenal orang, itu tidak mengapa. Meskipun itu bisa menjadi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak siap menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ikhlah ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia  merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud firman Allah: “Dan orang-ornag yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla? Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlomba.” (Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah saw. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, ‘Riya sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. melukiskan tipe orang seperti ini dengan berkataan, “Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya. Dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khaththab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Keikhalasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit manusia hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung. Tapi tak jarang orang itu memakai kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah swt. Di sinilah keikhlasan kita diuji. Memilih keridhaan Allah swt. atau keridhaan manusia yang mendominasi diri kita? Pilihan kita seharusnya seperti pilihan Masyithoh si tukang sisir anak Fir’aun. Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda. Sebaliknya, Allah swt. mencela orang yang berbuat kebalikan dari itu. “Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembagian) zakat. Jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah. Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, “Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-3412802478054170601?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/09/delapan-tanda-orang-ikhlas.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SqBxeAgUmAI/AAAAAAAAAYQ/PHS2wUlDB0Q/s72-c/ikhlas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-7663052413213861061</guid><pubDate>Mon, 31 Aug 2009 01:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-31T08:46:03.956+07:00</atom:updated><title>Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Yang Cantik?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SpsrVFy6mSI/AAAAAAAAAYA/n5d82vu8jAg/s1600-h/ikhwan2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 190px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SpsrVFy6mSI/AAAAAAAAAYA/n5d82vu8jAg/s200/ikhwan2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375938221529798946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;by Ummu Raihanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri! Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti saudariku,.. jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah fitrah atau naluri yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu pilihlah wanita karena keshalihahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi tetap saja penentuan akhirnya ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: Maka pilihlah yang beragama! Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;- Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, 2006.&lt;br /&gt;- Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini telah di muraja’ah oleh ustadz Eko Haryanto Lc (Abu Ziyad)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-7663052413213861061?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/08/salahkah-seorang-ikhwan-memilih-calon.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SpsrVFy6mSI/AAAAAAAAAYA/n5d82vu8jAg/s72-c/ikhwan2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-82486938420337440</guid><pubDate>Thu, 27 Aug 2009 02:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-27T09:28:12.671+07:00</atom:updated><title>Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SpXvMjDhp3I/AAAAAAAAAXo/bnsvz-Ef4lo/s1600-h/ramadhan2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SpXvMjDhp3I/AAAAAAAAAXo/bnsvz-Ef4lo/s200/ramadhan2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374464729184053106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun kemarin masih berpuasa bersama kita, melakukan shalat tarawih dan idul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di ‘peristirahatan umum’ ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua buah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan kedua digambarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah), al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata: “Hasan Shahih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung dengan usaha kita dan taufik dari Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut (Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah, nasihat yang disampaikan oleh Syaikh kami Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili pada malam Jum’at 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah Ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufik dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa salah satu indikasi taufik Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan-Nya kepada hamba-Nya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadirkan rasa tawakal kepada Allah adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; untuk menumbuhkan rasa lemah, tidak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufik dari Allah. Selanjutnya kita juga harus berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufik Allah dalam menjalani bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وخلق الإنسان ضعيفا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufik-Nya pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua hal inilah yang merupakan dua syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Di antaranya: Firman Allah ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istigfar atas kurang sempurnanya ia dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah Yang telah memberinya taufik sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengombinasikan antara hamdalah dan istigfar, maka dengan izin Allah ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun! Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, “Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub; pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri (bisa begini dan begitu) serta silau dengan amalannya berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فبما أغويتني لأقعدن لهم صراطك المستقيم. ثم لآتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.” (QS. Al-A’raf: 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat Kedua: Bertaubat Sebelum Ramadhan Tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat, di antaranya: firman Allah ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorang pun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كل بنى آدم خطاء وخير الخطائين التوابون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan isnadnya oleh Syaikh Salim Al Hilal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufik Allah, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal saleh, ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiat (lihat Dampak-Dampak dari Maksiat dalam kitab Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ karya Ibnul Qayyim, dan Adz-Dzunub Wa Qubhu Aatsaariha ‘Ala Al-Afrad Wa Asy-Syu’ub karya Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad hal: 42-48). Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara itu akan sirna dan Allah akan menganugerahi taufik kepadanya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya hakikatnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi menjabarkan: Taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Meninggalkan maksiat.&lt;br /&gt;   2. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat.&lt;br /&gt;   3. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya.&lt;br /&gt;   4. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya (Lihat: Riyaadhush Shaalihiin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai: sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berjilbab di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis idul fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan suatu bentuk kejahilan. Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya).” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdullah menyampaikan petuahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم ودع أذى الجار, وليكن عليك وقار وسكينة يوم صومك, ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama.” (Lathaa’if al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hal: 292)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul ‘Aziz pernah ditanya tentang arti takwa, “Takwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampur adukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai takwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’ (hubungan suami istri), ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-82486938420337440?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/08/agar-kita-turut-merasakan-indahnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SpXvMjDhp3I/AAAAAAAAAXo/bnsvz-Ef4lo/s72-c/ramadhan2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-5648160555509610054</guid><pubDate>Sat, 22 Aug 2009 07:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-22T14:38:31.173+07:00</atom:updated><title>Istri Sholehah mencar Ilmu</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/So-gbuVewhI/AAAAAAAAAXY/eOrRgM5uONI/s1600-h/isteri-solehah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/So-gbuVewhI/AAAAAAAAAXY/eOrRgM5uONI/s200/isteri-solehah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372689278631330322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, para suami yang shalih…&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa salah satu tanda istri yang shalihah adalah penuh perhatian dan cinta kepada ilmu. Bila sifat itu belum ada pada istrimu maka doronglah ia kepadanya. Dan jika sudah, maka usahakanlah untuk memberi kelapangan jalan untuk menuju ke sana. Memang, pada ilmu terdapat kenikmatan dan pada kebodohan bersemayam segudang penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha telah memuji wanita Anshor karena cinta mereka kepada ilmu. Ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ”sebaik-baik wanita adalah wanita Anshor. Rasa malu tidak menghalangi mereka memperdalam agama.”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu bantulah ia dan berikanlah kesempatan serta fasilitas untuk menambah khazanah ilmunya. Temanilah ia dan tidak ada salahnya engkau menggantikan tugasnya menjaga anak-anak agar istrimu bisa menghadiri majelis-majelis ilmu dan mendengarkan nasehat yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi anjuran ini usahakan agar rumahmu ada perpustakaan, meskipun sederhana. Milikilah sarana pengetahuan yang bervariasi, seperti buku, radio, tape recorder ataupun CD-CD yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, semakin bertambah ketaqwaan dan keshalihan istrimu, maka engkaulah orang pertama yang akan menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan, ada suami yang sepertinya merasa takut apabila istrinya lebih berilmu daripadanya. Ada juga suami yang giat berda’wah dan menyebarkan ilmu di tengah masyarakat, sementara ia biarkan istrinya hidup dalam kebodohan. Ia merana dan merugi serta tidak berkembang pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Rasulullooh shololloohi ‘alahi wassalaam memang mengajari kira seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali-kali tidak, bahkan beliau adalah sosok suami yang memberikan perhatian penuh kepada keluarganya. Beliau membagi waktunya, sebagian untuk Robb-Nya, sebagian untuk keluarganya,dan sebagian lagi untuk ummatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shololloohu ‘alahi wassalaam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Sesungguhnya istrimu punya hak atasmu, tamumu punya hak atasmu dan jasadmu juga punya hak atasmu”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shololloohu ‘alahi wassalaam juga membenarkan ucapan Salman yang berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ”Sesunnguhnya Robbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, keluargamu juga punya hak atasmu maka berikanlah setiap orang haknya.”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif dari buku Surat Terbuka untuk Suami, Ustad Abu Ihsan dan Ummu Ihsan, Pustaka Darul Ilmii&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-5648160555509610054?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/08/istri-sholehah-mencar-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/So-gbuVewhI/AAAAAAAAAXY/eOrRgM5uONI/s72-c/isteri-solehah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-6081336550251380245</guid><pubDate>Sat, 22 Aug 2009 03:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-22T10:10:17.451+07:00</atom:updated><title>10 Pohon Ramadhan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/So9hiT9d45I/AAAAAAAAAXQ/VcoZkQ-9vuc/s1600-h/ramadhan.gif"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/So9hiT9d45I/AAAAAAAAAXQ/VcoZkQ-9vuc/s200/ramadhan.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372620122577822610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com - Ibarat sebuah tanaman, maka amaliyah Ramadhan adalah pohonnya. Mediumnya adalah bulan Ramadhan. Pohon apa yang kita tanam di medium Ramadhan, itulah yang akan kita petik, itulah yang akan kita nikmati. Karena “siapa menanam dia yang menuai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya; Pohon apa saja yang perlu kita tanam di bulan suci ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada 10 pohon Ramadhan yang mesti kita tanam di medium bulan Ramadhan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon pertama, shaum. Tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shaum –makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya. Betapa anak-anak &lt;br /&gt;kita sudah belajar shaum semenjak dibangku sekolah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau demikian, apa bedanya shaumnya kita dengan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membatalkan nilai shaum. Di antaranya bohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shaum.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Betapa banyak orang yang shaum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.” Begitu penegasan Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kedua, sahur. Sahur tidak pengganti sarapan pagi, bukan juga penambah makan malam. Namun sahur yang penuh berkah, yang dilakukan diakhir jelang waktu fajar. Di sinilah waktu-waktu yang sangat mahal, doa dikabulkan, permintaan dipenuhi. Sehingga ketika melaksanakan sahur tidak tidak sambil nonton hiburan, tayangan yang melenakan, oleh media elektronik. Sibukkan diri dan keluarga kita dengan mensyukuri nikmat Allah dengan bersama-sama melaksanakan sunnah sahur ini dengan penuh hikmat dan kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” Begitu sabda Rasulullah saw. mengajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon ketiga, ifthar. Buka puasa. Sunnah buka puasa itu disegerakan. Ketika dengar kumandang adzan Maghrib, segera lakukan buka puasa. Jangan tunda, jangan sok kuat, nanti bakda tarawih saja, bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan apa kita ifthar? Sunnahnya dengan ruthab atau kurma muda. Berapa biji? Bilangan ganjil satu atau tiga biji. Kalau tidak ada, seteguk air putih. Itu yang dilakukan Rasulullah saw. bukan dengan memakan aneka hidangan, ragam makanan, bukan. Dan Rasulullah saw. pun baru makan besar setelah shalat tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ifthar bukan ajang balas dendam, seharian manahan lapar, ketika bedug Maghrib, seakan ingin melampiaskan rasa laparnya dengan memakan semua yang ada. Perilaku ini tentu tidak akan membawa dampak perubahan dalam kehidupan pelakunya. Justeru dengan berlapar-lapar sambil merenungkan hikmah shaum dan menjadi bukti kesyukuran adalah sebagian dari target berpuasa. Sehingga dengan sadar dan hikmat kita berdoa saat berbuka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaa Allah, kepada-Mu aku shaum, dengan rizki-Mu aku berbuka, telah hilang rasa haus-dahagaku, kerongkongan telah basah, karena itu tetapkan pahala bagiku, insya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon keempat, tarawih. Tarawih berasal dari akar kata “raaha-yaruuhu-raahatan-watarwiihatan- yang artinya rehat, istirahat, santai. Sehingga shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan dengan thuma’ninah, santai, khusyu’ dan penuh penghayatan, bukan hanya sekedar mengejar target bilangan rekaatnya saja, mau delapan, dua puluh, empat puluh, silahkan dikerjakan, asal memperhatikan rukun, wajib, dan sunnah shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita disuruh memilih, apakah shalat tarawih di masjid yang dalamnya dibaca “idzaa jaa’a nashrullahi wal fathu” atau shalat tarawih di masjid yang baca “idzaa jaa’akal munaafiquna qaaluu nasyhadu innaka larasuuluh…” Pilih mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak dalam posisi membandingkan surat yang dibaca, semua adalah surat dalam Al-Qur’an, namun kita ingin membandingkan sikap kita, apa kita pilih yang panjang-panjang namun khusyu’ atau pilih yang pendek-pendek namun secepat kilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat muslim harus berani mengevaluasi diri dalam hal pelaksanaan shalat tarawih ini. Sebab, sudah kesekian kali kita melaksanakan shalat tarawih dalam hidup kita, namun kita belum bisa meresapi, merenungkan dan mendapatkan manisnya shalat, bermunajat kepada Allah swt. secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Rasulullah saw. meneladankan kepada kita, bahwa beliau shalat tarawih, di reka’at pertama setelah beliau membaca surat Al-Fatihah, beliau membaca surat Al-Baqarah sampai selesai, para sahabat mengira beliau akan ruku’, namun beliau melanjutkan membaca surat An-Nisa’ sampai selesai, para sahabat kembali mengira beliau akan ruku’, namun kembali beliau membaca surat Ali-Imran sampai selesai, baru beliau ruku’. Sedangkan ruku’, i’tidal dan sujud beliau lamanya seperti beliau berdiri rekaat pertama. Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita tidak sekuat Rasulullah saw. namun yang kita teladani dari beliau adalah pelaksanaannya, dengan cara yang thuma’ninah, khusyu’ dan penuh tadabbur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kelima, tilawatul Qur’an. Membaca Al-Qur’an. Atau yang populer adalah tadarus Al-Qur’an. Tadarus tidak hanya dilakukan di bulan suci ini, juga dilakukan setiap hari di luar Ramadhan, namun pada bulan suci ini tadarus lebih dikuatkan, ditambahkan kuantitas dan kualitasnya. Setiap malam, Rasulullah saw. bergantian bertadarus dan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan malaikat Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik, ketika memasuki bulan suci Ramadhan meninggalkan semua aktivitas keilmuan atau memberi fatwa. Semua ia tinggalkan hanya untuk mengisi waktu Ramadhannya dengan tadarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syafi’i, si-empunya madzhab yang diikuti di negeri ini, ketika masuk bulan Ramadhan ia mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali, sehingga beliau khatam Al-Qur’an 60 kali selama sebulan penuh. Subhanallah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu mendebat, apakah itu mungkin? Bagaimana caranya beliau bisa melakukan hal itu? Esensi yang jauh lebih penting adalah, semangat dan mujahadah yang kuat itulah yang mesti kita miliki dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon keenam, ith’aamul ifthor. Memberi berbuka puasa. Jangan diremehkan memberi berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, baik langsung maupun lewat masjid. Walau hanya satu butir kurma, satu teguk air, makanan, minuman dan lainnya. Sebab, nilai dan pahalanya sama seperti orang yang berpuasa yang kita kasih berbuka itu. Di negara-negara Timur-Tengah, tradisi dan sunnah memberi buka puasa ini sangat kental. Hampir-hampir setiap rumah membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kerabat, musafir, tetangga, sahabat, untuk berbuka bersama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jadikan memberi buka bersama ini sebagai sarana menebar kepedulian, kekeluargaan, keakraban, dengan sesama, lebih lagi sebagai sarana fastabiqul khairat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon ketujuh, i’tikaf. Melaksanakan i’tikaf 10 hari akhir Ramadhan. Inilah amalan sunnah muakkadah yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw. semasa hidupnya. Lebih dari 8 atau 9 kali beliau beri’tikaf di bulan suci ini, bahkan di tahun di mana beliau meninggal, beliau beri’tikaf 20 hari akhir Ramadhan. Beliau membangunkan istri-sitrinya, kerabatnya untuk menghidupkan malam-malam mulia dan mahal ini. (baca i’tikaf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kedelapan, taharri lailatail qadar. Memburu lailatul qadar. Usia rata-rata umat Muhammad adalah 60 tahun, jika lebih, itu kira-kira bonus dari Allah swt. Namun usia yang relatif pendek itu bisa menyamai nilai dan makna usia umat-umat terdahulu yang bilangan umur mereka ratusan bahkan ribuan tahun. Bagaimana caranya? Ya, dengan cara memburu lailatul qadar, sebab orang yang meraih lailatul qadar dalam kondisi beribadah kepada Allah swt., berarti ia telah berbuat kebaikan sepanjang 1000 bulan atau 84 tahun 3 bulan penuh. Jika kita meraih lailatul qadar sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya, maka nilai usia dan ibadah kita bisa menyamai umat-umat terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia inilah yang di yaumil akhir kelak, umat Muhammad saw. dibangkitan dari alam kubur terlebih dahulu, dihisab terlebih dahulu, dimasukkan ke surga terlebih dahulu, dan juga dimasukkan ke neraka terlebih dahulu, waliyadzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang dari kebaikan.” (H.R. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kesembilan, umroh. Melaksanakan ibadah umroh dibulan suci Ramadhan, terutama 10 akhir Ramadhan. Sebab melaksanakan umroh di bulan suci ini seperti malaksanakan ibadah haji atau ibadah haji bersama Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” Dalam riwayat yang lain: “Sebanding haji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon kesepuluh, menunaikan ZISWAF, yaitu mengeluarkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. ZISWAF adalah merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah, ibadah yang terkait dengan harta dan berdampak pada manfaat sosial. Mengeluarkan ZISWAF tidak hanya bulan suci Ramadhan, kecuali zakat fitrah yang memang harus dikeluarkan sebelum shalat iedul fitri, sedangkan zakat-zakat yang lain, sedekah dan infaq dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun karena bulan Ramadhan menjanjikan kebaikan berlipat, biasanya kesempatan ini tidak disia-siakan umat muslim, sehingga umat muslim berbondong-bondong menunjukkan kepeduliannya dengan berZISWAF. Tentu dilakukan dengan baik, benar dan tidak memakan korban. Lebih baik lagi jika disalurkan lewat Lembaga Amil Zakat yang memang mengelola dana-dana umat ini sepanjang hari, tidak hanya tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang potensi ZISWAF di negeri ini sangatlah besar jumlah, setiap tahunnya potensi ZISWAF itu 19, 3 Trilyun Rupiah. Subhanallah, dana yang tidak sedikit yang jika bisa digali, diberdayakan, maka ekonomi umat Islam akan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah 10 pohon Ramadhan, “Siapa menanamnya ia akan menuai”, biidznillah. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-6081336550251380245?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/08/10-pohon-ramadhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/So9hiT9d45I/AAAAAAAAAXQ/VcoZkQ-9vuc/s72-c/ramadhan.gif' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-5375526799861414025</guid><pubDate>Mon, 06 Jul 2009 02:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-06T09:18:30.070+07:00</atom:updated><title>Selalu Ada Solusi</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SlFd_QG071I/AAAAAAAAAWk/N2DXScHY7OY/s1600-h/isfahangraphic164.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SlFd_QG071I/AAAAAAAAAWk/N2DXScHY7OY/s200/isfahangraphic164.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355164773156974418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com - Segala puji hanya bagi-Mu ya Allah, Engkau Maha memberi kemenangan bagi siapa saja hamba-Mu yang berjihad dijalan-Mu dan berkorban demi tegaknya kalimat-Mu dengan penuh kesabaran. Ya Allah…Ya Naashiru…tsabat kan kami dalam mengemban amanah Mu, ampuni kelemahan kami dan sikap kami yang melampaui batas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huffatil jannatu bilmakarih wahuffatinnaaru bissyahawat…” surga dikitari oleh sesuatu yang tidak disukai oleh nafsu, sebaliknya neraka dihiasi dengan hal-hal yang memanjakan syahwat. Maka hanya hamba-hamba yang sadar surga saja yang mampu mengemban beban perjuangan dan pengorbanan untuk dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita hendaknya bertanya pada diri ini, akan kejujuran perjuangan dan pengorbanan kita. Benarkah kita telah berjuang? Berjuang untuk apa dan siapa? Bersabarlah kita dalam perjuangan untuk tetap dalam manhaj-Nya? Untuk tidak tergoda oleh dunia? Atau terbujuk rayuan wanita? Atau terlena dengan tahta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita berkorban untuk taat? Berkorban untuk tegaknya nilai-nilai Dienullah? Berkorban untuk menghentikan atau meminimalisir kezhaliman? Berkorban untuk membantu saudara-saudara kita yang tertindas? Berkorban dalam dakwah di jalan-Nya? Berkorban untuk menyelamatkan moralitas anak-anak negeri ini? Berkorban…dan berkorban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terngiangnya genderang kalimat Allah Swt di relung hati kita yang paling dalam, kita yang sadar, kita yang sensitif akan kebahagiaan, kita yang senantiasa merindukan surga, kita yang berharap untuk berjumpa dengan-Nya, kita yang merindukan untuk menatap wajah-Nya,”Am hasibtum ‘an tadkhulul jannah ?”… apakah kita mengira akan mendapat surga dengan begitu mudah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita cermati perjuangan dan pengorbanan kita dijalan Allah untuk tegaknya dakwah ini, kita menjadi tahu…, sadar…dan insaf…Ya Allah sesungguhnya kami belum berbuat apa-apa untuk Islam, kecuali sedikiiit..,ya Allah …janganlah Engkau hinakan kami…jangan Engkau azab kami, Ya Allah…ampuni kami…rahmati kami, karuniakan kekuatan kepada hamba-hamba-Mu ini ya Qowiyyu…, agar kami mampu bangkit memperbaiki kelemahan kami … untuk meraih kemenangan dari sisi-Mu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah kita akan perjuangan dan pengorbanan pemimpin kita yang agung: Muhammad Saw.? kala tekanan dan permusuhan mendera dirinya untuk sebuah risalah besar dakwah yang di emban nya, hampir-hampir tak sejengkal bumi Mekah yang bisa dipijaknya, sepulang dari Thaif tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Zaid bin Haritsah ra. terlontar; “Ya Rasulullah kaifa ta’uudu ila makkah waqod akhrojuuka? ( ya Rasulullah bagaimana engkau akan kembali ke Mekah sedang mereka telah mengusirmu? ) Jawab Rasulullah saw. dengan pemberian harapan besar pada kita dan umat yang besar ini: “Ya Zaid Innallaha jaa’ilun limaa taroo farojan wamakhroja…” (wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menjadikan apa yang saat ini anda lihat, jalan keluar dan solusi…).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kemenangan itu dekat. Semoga kita adalah orang-orang yang terpilih untuk menjadi pelaksana kemenangan dakwah ini. Ya Allah ampunilah kelalaian kami, jadikanlah kami orang-orang yang siap berkorban apa saja untuk dakwah ini… amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-5375526799861414025?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/07/dakwatuna.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SlFd_QG071I/AAAAAAAAAWk/N2DXScHY7OY/s72-c/isfahangraphic164.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-73391770936993793</guid><pubDate>Wed, 27 May 2009 13:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-27T20:25:15.863+07:00</atom:updated><title>Ikhwan VS Akhwat</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sh0_KQytApI/AAAAAAAAARc/4V2fWzqH9js/s1600-h/MIZAN+III.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sh0_KQytApI/AAAAAAAAARc/4V2fWzqH9js/s200/MIZAN+III.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340494178670150290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ketika mendengar kata ‘ikhwan’ yang terbayang adalah cowok berjenggot, CC (celana cingkrang), dll. sedangkan kata ‘akhwat’ sendiri adalah cewek dengan jilbab gedhe, aktivis kampus, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, di luar itu semua, ketika menempuh 7 semester di kampus ini begitu banyak cerita yang menyangkut ikhwan dan akhwat. Begitu banyak tipe-tipe orang dengan kepribadiannya masing-masing. begitu banyak kisah-kisah dari yang sedih sampai yang terlucu sekalipun. kisah intrinsik dalam dinamika dakwah kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang teman, akhwat yang ketangguhannya bahkan melebih seorang ikhwan sekalipun. sampai-sampai ketika dia marah ataupun bernada agak keras, semua ikhwan pada ‘mengkerut’ (maaf ya ikhwan) . pun dengan akhwat sendiri. kekerasannya tidak akan pernah luntur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang akhwat lagi…subhanallah bersepeda dari kosan sampai kampus. ketangguhannya juga tidak dapat diragukan, bisa dibilang agak ditakuti ikhwan-ikhwan :p&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhwat yang lain lagi, ‘akhwat banget’…benar-benar tipikal ummahat sejati :) . tapi dibalik itu…pernah dalam sebuah acara kemuslimahan, si ikhwan yang diminta tolong tidak kunjung tiba. akhirnya dengan kekuatan seorang ‘akhwat’, akhwat tersebut mengangkut-angkut galon..kardus dan kursi sendiri..Subhanallah…di balik kelembutannya tersimpan kekuatan yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhwat lagi..teman se-angkatan beda jurusan. tak pernah wajahnya menampakkan kemarahan sekalipun. ketika disakiti orang hanya diam..tersenyum..Ukhti semoga Allah membalas ketabahanmu.Ketika beberapa ikhwan dan akhwat menumpahkan kemarahannya kepadamu, mungkin engkau hanya menahan sakit itu sendiri…tanpa mengeluh sedikitpun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhwat-akhwat seperjuangan di jurusan…sampai-sampai ada ikhwan yang nyeletuk pas Syuro chating, “akhwatnya klo masalah dakwah bener-bener agresif! jauh lebih cekatan daripada ikhwannya….” . Buat mb pi dengan syiarnya&amp;KanTin-nya…wij dengan kamusnya… U’re all my best friends!!! Arigatou Gozaimasu!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja tidak lupa menyebutkan akhwat-akhwat yang membentuk diri ini…murobbi-murobbi ana ketika di kampus.&lt;br /&gt;semuanya berkesan dan meninggalkan banyak pelajaran.Jazakillah khoir atas segalanya, ilmu yang diberikan, kesabaran, hikmah dan tauladan, dll.Sebentar lagi genap ‘4′ ponakan nih…:) asyik…punya banyak adek… Buat mb R ditunggu kabar gembira momongan pertamanya; bwt mb C udah ‘4 bulan’ ni mb; bwt mb W abis ni si kecil punya adek..waa…begitu banyak kegembiraan di tengah-tengah segala kegalauan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya rabbi…begitu banyak tauladan di bumi kampus tercinta ini…&lt;br /&gt;Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil…&lt;br /&gt;pun ketika bertemu dengan akhwat-akhwat di luar kampus…&lt;br /&gt;Subhanallah…&lt;br /&gt;–bwt u’dwi UnMuh…jazakillah atas tangis dan taujihnya saat perpisahan..di tengah-tengah lantunan izis ’slamat tinggal sahabatQ’… qt akan sering bertemu di dunia maya, sang ‘bumi_anels’…&lt;br /&gt;–u’ria UnKhair… atas perjuangannya selama seminggu di kapal untuk mencapai lampung dari maluku…belum dari lampung ke maluku..plus 1 minggu di lampung…hampir satu bulan…tenang ukh fsnas depan deket2 situ koq :p&lt;br /&gt;–uni agus Unand..atas senyumnya yang senantiasa membangkitkan semangat..atas perjuangannya mengangkat ‘jilbab’ saat syuro pleno bersama ikhwan. atas jiwa ‘keibuannya’…&lt;br /&gt;–u’hesty Unitomo…atas suara lantangnya saat mengingatkan ikhwan mengenai jam malam saat sidang..atas sms taujihnya yang tepat sasaran…&lt;br /&gt;–u’seny UPI…akhwat bandung euy..dengan logat yang sangat khas. Teringat pas pleno ikhwan-akhwat, antilah yang berbicara mewakili Bandung raya. Subhanallah…pas sholat juga..lantunan ayat suci dan tilawahnya yang khas membuat terpaku…kumaha damang ukhti…sayang pas SE kemarin g sempet ketemu&lt;br /&gt;–u’norma ITB…’adek’ yang memegang amanah besar, ya kan bu sekum GAMAIS?&lt;br /&gt;–u’ika UGM…akhwat yang lembut dan keras..dua sisi yang saling melengkapi…btw qt dulu sering menghindar jalan bareng..abis..bedanya jauh banget..hehe..&lt;br /&gt;–u’ratna UNJ..yang bersedia dengan ikhlas saat ditunjuk jadi pimdang…pun dengan keterbatasan yang ada&lt;br /&gt;–mb ayu UnMul…alhamdulillah..ana dapet benerin laptopnya..btw ana bukan reparator lo ukh..kebetulan aja…tragedi ‘laptop-mati-pdhl-ikhwan-sdh-nunggu-buat-ambil-draftpleno’ yang bikin panik ya…sampai-sampai panitia ikut-ikutan nyegat kita pas mau kluar dari forum…dikira ngapain padahal..he..he&lt;br /&gt;–u’Risna unMul…calon dokter gigi..pas itu gigiq bener2 sakit ukh..sampe-sampe malam sebelum berangkat ke lampung ana&amp;seorang temen akhwat muter2 cari dokter gigi ga nemu. nekat dengan gigi nyut-nyutan berangkat ke Lampung. tapi ajaib,pas ketemu antuna semua sakitnya langsung ilang&lt;br /&gt;–mb betty UNS…wuah..ini akhwat bener2 teladan..senyumannya bisa bikin semua bete ilang..kelembutannya bisa mengalahkan kekerasan ikhwan..pun dengan teman-teman seangkatannya yang rata-rata sudah digantikan dengan juniornya mb ini tetap semangat untuk datang ke fsnas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–u’ wati unram. Yang semangatnya senantiasa menyindir diri ini.tetangga pulau yg subhanallah…salut ukh!! kapan ya bisa ketemu..insyaAllah..^^&lt;br /&gt;–adek d-cy…yang sering tatinggal pas pleno sampai-sampai sakit perut pun q g tau.afwan ya adekq…saat ini..di tengah-tengah menumpuknya amanah, tetep ingat sabar &amp; sholat sebagai energi utama qt…&lt;br /&gt;–u’rohmah..akhwat hukum yang bener2 berjiwa ‘hukum’ tapi klo pas lagi ‘hang’…ha ha..ga koq ukh. saat pertama kali bertemu kesannya susah deket, dengan bawaan anti yg 1 koper gedhe itu :p tapi pas tau orangnya..huaaa..kangen&lt;br /&gt;–u’funny..jazakillah khoir ukh atas segalanya…dari perjalanan awal kita sampai menginjakkan kaki pertama kali di lampung. Semua terdokumentasikan dengan baik di hatiQ. ..teringat semua kenangan masa kecil kita…semua hal yang merintangi qt saat berangkat ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…dan akhwat-akhwat lain yang tidak bisa ana sebutkan satu per satu…yang turut mewarnai kesholihan ana…&lt;br /&gt;Benar..ana beruntung bisa satu seperjuangan dengan antuna.semoga kita termasuk orang yang bertemu dan berpisah karena Allah.Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah…gimana dengan ikhwan-ikhwan??&lt;br /&gt;berhubung ini bukan kafaah saya untuk menerangkan tentang ‘keikhwanan’,jd antum sekalian bisa menyimpulkan sendiri kan?&lt;br /&gt;Bagaimana…?&lt;br /&gt;Sudah bisa melihat dengan jelas?&lt;br /&gt;Di sini ada akhwat-akhwat yang setangguh antum semuanya…&lt;br /&gt;bukan akhwat yang lemah…&lt;br /&gt;bukan akhwat yang manja…&lt;br /&gt;tapi akhwat yang dengan kekerasan sekaligus kelembutannya bisa merangkul dunia&lt;br /&gt;karena mereka..akhwat-akhwat yang kelak menjadi madrasah ummat&lt;br /&gt;penopang kebangkitan ummat..&lt;br /&gt;dengan cintanya…&lt;br /&gt;dengan kasih sayangnya…&lt;br /&gt;dengan ketegarannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;so…&lt;br /&gt;ketika ada ikhwan tangguh….&lt;br /&gt;pasti ada akhwat perkasa :)&lt;br /&gt;ikhwan tangguh vs akhwat perkasa&lt;br /&gt;termasukkah qt di dalamnya?…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk memperingati Mother Day 22 Desember&lt;br /&gt;buat akhwat-akhwat perkasa yang tersebar di seluruh penjuru negeri…&lt;br /&gt;perhiasan dunia yang membuat bidadari bermata jeli di surga cemburu karena kesholihannya…&lt;br /&gt;btw ini bukan artikel narsis lo…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–In memorial, komisi C Jarmus FSLDKN IV Lampung–&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-73391770936993793?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/05/ikhwan-vs-akhwat.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sh0_KQytApI/AAAAAAAAARc/4V2fWzqH9js/s72-c/MIZAN+III.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-3553620732392325509</guid><pubDate>Fri, 20 Mar 2009 04:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-20T11:27:36.727+07:00</atom:updated><title>Istiqomah dalam Kebaikan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/ScMbKPInZgI/AAAAAAAAARA/1l6B3UVyRsQ/s1600-h/2586287569_affced07d3_o.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/ScMbKPInZgI/AAAAAAAAARA/1l6B3UVyRsQ/s200/2586287569_affced07d3_o.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315121847902627330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyiyah ra, Rasulullah saw bersabda, “Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan, dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga.” Tanya para sahabat, “Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah?' Jawab Rasulullah, “Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa'i). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini terdapat beberapa perintah atau nasihat yang bisa dipetik dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tingkatkan amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upayakan sekuat daya untuk meningkatkan amal perbuatan setiap saat. Berkomitmenlah pada jalan kebaikan (sidad). Kata sidad ditafsirkan sebagai kebenaran, atau selalu berorientasi pada tujuan dan jalan yang lurus, tidak berlebihan dan tidak meremehkan terhadap apa yang telah diperintahkan-Nya. Sikap berlebihan dan pemaksaan diri dalam melakukan amal, tak jarang dapat mengeluarkan seseorang dari jalur yang benar. Jenuh dan bosan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Dekati kebenaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran menurut hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bagai seberkas cahaya. Agar hidup ini senantiasa tercerahkan, dekati dan ambillah cahaya (kebenaran) itu. Jadikan kebenaran, sebagai pakaian dan teman kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kabar gembira dan Rahmat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibsyar sama artinya dengan tabsyir, dengan kandungan makna: menggabarkan hal-hal yang menyenangkan dengan wajah berseri. Di sini Rasulullah menyuruh kita menanamkan rasa senang lantaran rahmat Allah yang melimpahi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum beriman hendaknya tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Tetap memiliki jiwa optimistis dan maju, dengan rahmat-Nya itu. Dianjurkan untuk senantiasa bermunajat, kiranya Allah senantiasa menyelimuti dengan rahmat-Nya. Rahmat Allah inilah yang dapat mengantarkan pada keridhoan-Nya (surganya). Menjauhkannya dari siksa-Nya (neraka). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sedikit Amal, tapi Langgeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan perbuatan baik, setahap demi setahap, sama dengan membangun benteng diri yang kokoh. Ibarat menabung, tak terasa berjumlah banyak. Inilah amalan yang dicintai Allah, melakukan amaliyah yang terus-menerus meski hanya sedikit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-menerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tak layu. Alhasil, jiwa terus terangkat menuju derajat yang lebih baik (sempurna). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari Berbagai Sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-3553620732392325509?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/03/istiqomah-dalam-kebaikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/ScMbKPInZgI/AAAAAAAAARA/1l6B3UVyRsQ/s72-c/2586287569_affced07d3_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-1284218139097155083</guid><pubDate>Thu, 12 Mar 2009 05:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-12T12:47:46.556+07:00</atom:updated><title>Muraqobah dan Muhasabah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sbih1tlF86I/AAAAAAAAAQ4/CvA_eixta3k/s1600-h/muhasabah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sbih1tlF86I/AAAAAAAAAQ4/CvA_eixta3k/s200/muhasabah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312173704623813538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Muqaddimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu masih berupa janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa".(QS. 53:32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat Allah SWT tersebut di atas benar-benar menyadarkan kita akan kelemahan dan kenistaan kita sebagai manusia yang sering kali berbuat kekhilafan. Bahwa seandainya pun kita terhindar dari dosa-dosa besar, kita pasti tak akan luput dari dosa-dosa kecil. Allah menegaskan bahwa kita jangan merasa dan mengklaim diri suci, karena Allah sajalah yang paling mengetahui siapa yang bertaqwa dan yang tidak. Sementara Allah juga tahu siapa diri kita sejak dari awal penciptaan, ketika masih berupa janin di rahim ibu kita, hingga kita dewasa. Namun Ia juga mengingatkan kita tentang ampunan-Nya yang luas.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang hanya satu insan kamil yang ma'shum, yakni Rasulullah SAW. Beliau menjalani proses pembedahan dada dan pembersihan jiwa oleh malaikat Jibril karena beliau dipersiapkan untuk mengemban tugas mulia. Namun beliau juga pernah mengatakan bahwa kalau bukan karena rahmat Allah niscaya tak akan ada yang selamat dari siksa Allah dan neraka-Nya. "Tidak juga engkau ya Rasulullah?". "Ya, tidak juga aku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sifat manusia yang lemah, mudah lupa, khilaf, kikir dan berkeluh kesah, penyebab terjerumusnya manusia ke dalam lembah kenistaan dan kemaksiatan adalah godaan syaithan yang gencar dari segala penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam QS. Az-Zukhruf:36-37, Allah SWT berfirman: "Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an), kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan). Maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (qarin). Dan sesungguhnya syaithan-syaithan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qarin alias syaithan yang selalu mendampingi kita, akan sukses menggoda kita, jika kita berpaling dari-Nya dan ajaran-Nya (Al-Qur'an). Sampai akhirnya kita terhalang dari jalan yang lurus dan benar. Namun ironisnya, kita tetap menyangka berada di jalan yang benar dan memperoleh petunjuk-Nya. Padahal kita sudah jauh tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Rasulullah SAW saja yang tak dapat digoda oleh Qarin. Bahkan Qarinpun tak akan mampu menyerupai Rasulullah SAW baik ketika beliau masih hidup maupun setelah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari begitu rentan dan lemahnya kita sebagai manusia dari godaan syaithan yang menyesatkan dan menghalangi kita dari ajaran Allah serta melalaikan kita dari mengingat-Nya, maka jelas pemahaman dan kesadaran muraqabah dan muhasabah adalah satu kemestian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Muraqabah dan Muhasabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabah adalah upaya diri untuk senantiasa merasa terawasi oleh Allah (muraqabatullah). Jadi upaya untuk menghadirkan muraqabatullah dalam diri dengan jalan mewaspadai dan mengawasi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan muhasabah merupakan usaha seorang Muslim untuk menghitung, mengkalkulasi diri seberapa banyak dosa yang telah dilakukan dan mana-mana saja kebaikan yang belum dilakukannya. Jadi Muhasabah adalah sebuah upaya untuk selalu menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya tengah dihisab, dicatat oleh Raqib dan Atib sehingga ia pun berusaha aktif menghisab dirinya terlebih dulu agar dapat bergegas memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Muraqabah dan Muhasabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila setiap Muslim senantiasa memuraqabahi dirinya dan menghadirkan muraqabatullah (pengawasan Allah) dalam dirinya maka ia akan selalu takut untuk berbuat kemaksiatan karena ia selalu merasa dan sadar dirinya dalam pemantauan dan pengawasan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bila ia juga gemar memuhasabahi dirinya karena takut pada perhitungan hari akhirat, maka bisa dipastikan akan terwujud masyarakat yang aman karena semua orang sudah memiliki pengawasan melekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orientasi Ukhrawi membuat seseorang senantiasa memperhitungkan segala tindak-tanduknya dalam perspektif Ukhrawi. Ia juga akan terhindar dari penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati), keserakahan, kezhaliman, penindasan dan kemungkaran, karena semua keburukan itu hanya akan menyengsarakannya di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya ia akan berusaha menanam kebajikan sebanyak mungkin (QS. 22:77) agar dapat menuai hasilnya di akhirat kelak. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah pernah mengibaratkan bahwa dunia adalah ladang tempat menanam, bibitnya adalah keimanan dan ketaatan adalah air dan pupuknya. Sementara akhirat adalah tempat kita memetik atau menuai hasilnya, kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila demikian keadaannya, Insya Allah akan tercipta "Baldatun thayyibatun warabbun ghafur" (negeri yang baik, berkah dan dalam ampunan Allah) yang bukan sekedar slogan. Selain tercipta kemaslahatan dalam scope atau ruang lingkup negeri, Insya Allah akan tercipta pula kemaslahatan di ruang lingkup dunia internasioanal bila para Muslimnya dengan kualitas seperti itu mampu menjadi "Ustadziatul 'alam" (soko guru dunia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan bimbingan dan arahan para ustadziatul 'alam yang sekaligus khalifatullah fil ardhi sajalah, dunia akan terbebas dari bencana, kerusakan dan kemurkaan Allah (QS. 2:10-11, 30:41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila para Muslim tetap mengekor musuh-musuh Allah yang membenci Al-Qur'an (QS. 47:25-26) maka bahaya kemurtadan massal menghadang di depan mata dan tetap saja yahudi la'natullah alaihim yang memegang supremasi dan mengendalikan dunia serta terus menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan-tahapannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tahapan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dan membangun sistem pengawasan serta penjagaan yang kokoh. Kesemua tahapan tersebut penting kita jalani agar benar-benar menjadi "safety net" (jaring pengaman) yang menyelamatkan kita dari keterperosokan dan keterpurukan di dunia serta kehancuran di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu'ahadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu'ahadah yakni mengingat dan mengokohkan kembali perjanjian kita dengan Allah SWT di alam ruh. Di sana sebelum kita menjadi janin yang diletakkan di dalam rahim ibu kita dan ditiupkan ruh, kita sudah dimintai kesaksian oleh Allah, "Bukankah Aku ini Rabbmu?" Mereka menjawab: "Benar (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (QS. 7:172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermu'ahadah, kita akan berusaha menjaga agar sikap dan tindak tanduk kita tidak keluar dari kerangka perjanjian dan kesaksian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita hendaknya selalu mengingat juga bahwa kita tak hanya lahir suci (HR. Bukhari-Muslim) melainkan sudah memiliki keberpihakan pada Al-haq dengan syahadah di alam ruh tersebut sehingga tentu saja kita tak boleh merubah atau mencederainya (QS. 30:30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermu'ahadah, seyogyanyalah kita bermuraqabah. Jadi kita akan sadar ada yang selalu memuraqabahi diri kita apakah melanggar janji dan kesaksian tersebut atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan yang detail tentang muraqabah diuraikan dalam bagian tersendiri, karena tulisan ini memang menitikberatkan pada pembahasan tentang muraqabah dan muhasabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah adalah usaha untuk menilai, menghitung, mengkalkulasi amal shaleh yang kita lakukan dan kesalahan-kesalahan atau maksiat yang kita kerjakan. Penjabaran lebih detail tentang muhasabah juga ada pada bagian tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu'aqabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengingat perjanjian (mu'ahadah), sadar akan pengawasan (muraqabah) dan sibuk mengkalkulasi diri, kita pun perlu meneladani para sahabat dan salafus-shaleh dalam meng'iqab (menghukum/menjatuhi sanksi atas diri mereka sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Umar r.a terkenal dengan ucapan: "Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab", maka tak ada salahnya kita menganalogikan mu'aqabah dengan ucapan tersebut yakni "Iqablah dirimu sebelum kelak engkau diiqab". Umar Ibnul Khathab pernah terlalaikan dari menunaikan shalat dzuhur berjamaah di masjid karena sibuk mengawasi kebunnya. Lalu karena ia merasa ketertambatan hatinya kepada kebun melalaikannya dari bersegera mengingat Allah, maka ia pun cepat-cepat menghibahkan kebun beserta isinya tersebut untuk keperluan fakir miskin. Hal serupa itu pula yang dilakukan Abu Thalhah ketika beliau terlupakan berapa jumlah rakaatnya saat shalat karena melihat burung terbang. Ia pun segera menghibahkan kebunnya beserta seluruh isinya, subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah adalah upaya keras untuk bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah kepada Allah, menjauhi segala yang dilarang Allah dan mengerjakan apa saja yang diperintahkan-Nya. Kelalaian sahabat Nabi SAW yakni Ka'ab bin Malik sehingga tertinggal rombongan saat perang Tabuk adalah karena ia sempat kurang bermujahadah untuk mempersiapkan kuda perang dan sebagainya. Ka'ab bin Malik mengakui dengan jujur kelalaian dan kurangnya mujahadah pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Kaab harus membayar sangat mahal berupa pengasingan/pengisoliran selama kurang lebih 50 hari sebelum akhirnya turun ayat Allah yang memberikan pengampunan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Muhammad SAW terkenal dengan mujahadahnya yang luar biasa dalam ibadah seperti dalam shalat tahajjudnya. Kaki beliau sampai bengkak karena terlalu lama berdiri. Namun ketika isteri beliau Ummul Mukminin Aisyah r.a bertanya, "Kenapa engkau menyiksa dirimu seperti itu, bukankah sudah diampuni, seluruh dosamu yang lalu dan yang akan datang". Beliau menjawab. "Salahkah aku bila menjadi 'abdan syakuran?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutaba'ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kita perlu memonitoring, mengontrol dan mengevaluasi sejauh mana proses-proses tersebut seperti mu'ahadah dan seterusnya berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabah atau perasaan diawasi adalah upaya menghadirkan kesadaran adanya muraqabatullah (pengawasan Allah). Bila hal tersebut tertanam secara baik dalam diri seorang Muslim maka dalam dirinya terdapat 'waskat' (pengawasan melekat atau built in control) yakni sebuah mekanisme yang sudah inheren, dalam dirinya. Artinya ia akan aktif mengawasi dan mengontrol dirinya sendiri karena ia sadar senantiasa berada di bawah pengawasan Allah seperti dalam untaian ayat-ayat Allah berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan".(QS. 57:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya".(QS. 50:16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)".(QS. 6:59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Luqman berkata) : "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya) sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui".(QS. 31:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam HR. Ahmad, Nabi SAW bersabda, "Jangan engkau mengatakan engkau sendiri, sesungguhnya Allah bersamamu. Dan jangan pula mengatakan tak ada yang mengetahui isi hatimu, sesungguhnya Allah mengetahui".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabatullah atau kesadaran tentang adanya pengawasan Allah akan melahirkan ma'iyatullah (kesertaan Allah) seperti nampak pada keyakinan Rasulullah SAW (QS. 9:40) bahwa "Sesungguhnya Allah bersama kita" ketika Abu Bakar r.a sangat cemas musuh akan bisa mengetahui keberadaan Nabi dan menangkapnya. Begitu pula pada diri Nabi Musa a.s ketika menghadapi jalan buntu karena di belakang tentara Fir'aun mengepung dan laut merah ada di depan mata. Namun ketika umat pengikutnya panik dan ketakutan, beliau sangat yakin adanya kesertaan Allah. Ia berkata, "Sekali-kali tidak (akan tersusul). Rabbku bersamaku. Dia akan menunjukiku jalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian akhirnya Nabi Ibrahim a.s juga dapat menjadi contoh agung tentang kesadaran akan kesertaan dan pertolongan Allah. Yakni ketika beliau diseret dan dibakar di api unggun, beliau tetap tenang. Dan benar saja terbukti beliau keluar dari api unggun dalam keadaan sehat wal 'afiat karena Allah telah memerintahkan makhluknya yang bernama api agar menjadi dingin dengan izin dan kehendak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah atau menghisab, menghitung atau mengkalkulasi diri adalah satu upaya bersiap-siaga menghadapi dan mengantisipasi yaumal hisab (hari perhitungan) yang sangat dahsyat di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri, memperhatikan bekal apa yang dipersiapkannya untuk hari esok (kiamat). Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan".(QS. 59:18). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan diri yang dimaksud tentu saja membekali diri dengan taqwa kepada karena di sisi Allah bekal manusia yang paling baik dan berharga adalah taqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar r.a pernah mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal: "Haasibu anfusakum qabla antuhasabu" (Hisablah dirimu sebelum kelak engkau dihisab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT juga menyuruh kita bergegas untuk mendapat ampunan-Nya dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi, diperuntukkan-Nya bagi orang-orang yang bertaqwa.(QS 3:133)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya kita melakukan muhasabah sejak dini secara berkala karena segala perkataan dan perbuatan kita dicatat dengan cermat oleh malaikat Raqib dan Atid dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah.( QS. 50:17-18). Setiap kebaikan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi ganjaran dan keburukan sekecil apapun juga akan dicatat dan diberi balasan berupa azab-Nya.(QS. 99:7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mengingat betapa dahsyatnya hari penghisaban, perhitungan dan pembalasan, maka wajar sajalah jika kita harus mengantisipasi dan mempersiapkan diri sesegera, sedini dan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam QS. 80:34-37, tergambar kedahsyatan hari itu ketika semua orang berlarian dari saudara, kerabat, sahabat, ibu dan bapaknya serta sibuk memikirkan nasibnya sendiri. Hari di mana semua manusia pandangannya membelalak ketakutan, bulan meredup cahayanya, matahari dan bulan dikumpulkan, manusia berkata: "Kemana tempat lari?. Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. Hanya kepada Tuhanmu saja pada hari itu tempat kembali".(QS. 75:7-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummul Mu'minin Aisyah r.a bertanya kepada Rasulullah SAW apakah manusia tidak malu dalam keadaan telanjang bulat di padang mahsyar. Rasulullah SAW menjawab bahwa hari itu begitu dahsyat sampai-sampai tidak ada yang sempat melihat aurat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa ada 7 golongan yang akan mendapat naungan/perlindungan Allah di mana di hari tidak ada naungan/perlindungan selain naungan/perlindungan Allah (Yaumul Qiyamah atau Yaumul Hisab). Ketujuh golongan itu adalah Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah SWT, pemuda yang lekat hatinya dengan masjid, orang yang saling mencintai karena Allah; bertemu dan berpisah karena Allah, orang yang digoda wanita cantik lagi bangsawan dia berkata, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah", orang yang bersedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya (secara senbunyi-sembunyi) dan orang yang berkhalwat dengan Allah di tengah malam dan meneteskan airmata karena takut kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang pertama dihisab adalah mereka yang berjihad, berinfaq dan beramal shaleh (QS. 22:77, 2:177). Kemudian sabda Rasulullah SAW di hadits lainnya: "Ada 70.000 orang akan segera masuk surga tanpa dihisab". "Do'akan aku termasuk di dalamnya, ya Rasulullah!", mohon Ukasyah bersegera. "Ya, Engkau kudo'akan termasuk di antaranya", sahut Nabi SAW. Ketika sahabat-sahabat yang lain meminta yang serupa, jawab Nabi SAW singkat, "Kalian telah didahului oleh Ukasyah". "Siapa mereka itu ya Rasulullah?", tanya sahabat. "Mereka adalah orang yang rajin menghisab dirinya di dunia sebelum dihisab di akhirat". Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di riwayat lain dikisahkan bahwa orang-orang miskin bergerombol di depan pintu surga. Ketika dikatakan kepada mereka agar antri dihisab dulu, orang-orang miskin yang shaleh ini berkata, "Tak ada sesuatu apapun pada kami yang perlu dihisab".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang ada 3 harta yang tak akan kena hisab yakni: 1 rumah yang hanya berupa 1 kamar untuk bernaung, pakaian 1 lembar untuk dipakai dan 1 porsi makanan setiap hari yang sekedar cukup untuk dirinya. Maka orang-orang miskin itupun dipersilakan masuk ke surga dengan bergerombol seperti kawanan burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa beruntungnya mereka semua padahal hari penghisaban itu begitu dahsyatnya sampai banyak yang ingin langsung ke neraka saja karena merasa tak sanggup segala aibnya diungkapkan di depan keseluruhan umat manusia. Apalagi tak lama kemudian atas perintah Allah, malaikat Jibril menghadirkan gambaran neraka yang dahsyat ke hadapan mereka semua sampai-sampai para Nabi dan orang-orang shaleh gemetar dan berlutut ketakutan. Apalagi orang-orang yang berlumuran dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaumul Hisab itu bahkan juga terasa berat bagi para Nabi seperti Nabi Nuh yang ditanya apakah ia sudah menyampaikan risalah-Nya atau Nabi Isa yang ditanya apakah ia menyuruh umatnya menuhankan ia dan ibunya sebagai dua tuhan selain Allah. Pertanyaan yang datang bertubi-tubi itu terlihat menekan dan meresahkan para Nabi. Jika Nabi-nabi saja demikian keadaannya, bagaimana pula kita?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saja kita tidak termasuk orang yang bangkrut/pailit di hari penghisaban, hari ketika dalih-dalih ditolak dan hal sekecil apapun dimintakan pertanggungjawabannya. Mengapa disebut bangkrut? Karena ternyata amal shaleh yang dilakukan terlalu sedikit untuk menebus dosa-dosa kita yang banyak sehingga kita harus menebusnya di neraka. Na'udzubillah min dzalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Muraqabah dan Muhasabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang rajin me'muraqabah'i dan me'muhasabah'i dirinya akan mau dan mudah melakukan perbaikan diri. Ia juga akan mau meneliti, mengintrospeksi, mengoreksi dan menganalisis dirinya. Hal-hal apa saja yang menjadi faktor kekuatan dirinya yang harus disyukuri dan dioptimalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hal-hal apa saja yang menjadi faktor kelemahan dirinya yang harus diatasi, bahkan kalau mungkin dihilangkan. Lalu bahaya-bahaya apa yang mengancam diri dan aqidahnya sehingga harus diantisipasi, dan akhirnya peluang-peluang kebajikan apa saja yang dimilikinya yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirinci, paling tidak, ada 3 hasil yang akan diraih orang yang rajin melakukan muraqabah dan muhasabah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui aib, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya serta berupaya sekuat tenaga meminimalisir atau bahkan menghilangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Istiqamah di atas syari'at Allah. Karena ia mengetahui dan sadar akan konsekuensi-konsekuensi keimanan dan pertanggungjawaban di akhirat kelak maka cobaan sebesar apapun tidak akan memalingkannya dari jalan Allah seperti misalnya tokoh Bilal dan Masyitah. Walaupun keistiqamahan adalah hal yang sangat berat sehingga Rasulullah SAW sampai mengatakan, "Surat Hud membuatku beruban" (Karena di dalamnya ada ayat 112 berisi perintah untuk istiqamah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Insya Allah akan aman dari berat dan sulitnya penghisaban di hari kiamat nanti (QS. 3:30). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.keadilan.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-1284218139097155083?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/03/muraqobah-dan-muhasabah.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/Sbih1tlF86I/AAAAAAAAAQ4/CvA_eixta3k/s72-c/muhasabah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-757632179541904076.post-7288453426918987031</guid><pubDate>Thu, 12 Mar 2009 05:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-12T12:38:44.693+07:00</atom:updated><title>Mengenal Lebih Jauh Diri Sendiri</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SbifvYY_UXI/AAAAAAAAAQw/E1N2P92OXaE/s1600-h/solitude.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SbifvYY_UXI/AAAAAAAAAQw/E1N2P92OXaE/s200/solitude.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312171396833431922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah mengatakan, semut di seberang dapat kelihatan tapi gajah di pelupuk mata tidak tampak. Pepatah ini menganalogikan bahwa sering manusia lebih pandai menilai kelebihan dan kekurangan orang lain. Tetapi mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri adalah sebuah pekerjaan sulit dan sering diabaikan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan dari pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Al-Fusilat:53) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula hadis yang walahualam shohih atau tidak mengatakan “Siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah". &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari firman Allah dan hadis di atas dapat kita simpulkan betapa pentingnya pengenalan terhadap diri sendiri. Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya dalam diri manusia. Kemudian dilanjutkan oleh hadis nabi, siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tihannya. Artinya bila seseorang mengenal dirinya maka ia akan memikirkan penciptaaan dirinya. Siapa lagi yang menciptakan manusia kalau bukan Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering manusia tidak mengenali dirinya sendiri, tidak tahu dari mana ia berasal, siapa yang menciptakannya, untuk apa ia hidup dan akan kemana ia setelah meninggal. Maka tidak heran banyak manusia yang mengabaikan dirinya bahkan tidak segan menyiksa dirinya sendri untuk mendapatkan kepuasaan sesaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia terdiri dari tiga unsur, ruh, jasad dan jiwa. Ketiganya mempunyai peran yang tidak bisa dipisahkan. Jasad tanpa ruh ibarat sebatang pohon yang mati, layu dan gersang. Binatang memiliki jasad dan jiwa, tetapi ia tidak memiliki ruh. Manusia jelas berbeda dengan binatang. Dan Allah telah melebihkan manusia dari makhluk ciptaa-Nya yang lain, manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kesempurnaan ini menjadikan manusia berfikir?. Tidak perlu dulu tentang yang lain, tetapi berfikir tentang penciptaanya. Berfikir tentang hakekat dirinya. Tentang jasad sempurna dan sebaik-baik bentuk yang diciptakan Allah untuknya. Tentang jiwa dan ruh yang tidak tampak tapi mengendalikan hampir seluruh keputusan yang diambil manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah dimuka bumi ini. Ia memiliki kombinasi sifat syetan dan malaikat. Salah satu sifat tersebut bisa mendominasi kehidupan manusia. Jika sifat syetan yang mendominasi, maka ia akan berprilaku seperti syetan. Dia menjadi manusai yang jahat, pendendam, sombong, angkuh, penipu ingkar kepada Allah, dan sifat buruk lainnya. Sebaliknya jika sifat malaikat yang mendominasinya, maka ia menjadi manusia yang baik, taat dan tunduk kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun jika didominasi oleh kedua sifat itu, tidak pula lantas manusia akan menjadi syetan atau malaikat. Dia tetaplah manusia, hanya saja prilakunya yang tampak seperti syetan atau malaikat.. Manusia bebas memilih, prilaku manakah yang menjadi keinginanya. Pilihan itu hanya bisa diambil jika manusia tahu mengenai dirinya, baik kelebihan maupun kekuranganya, sifat buruk maupupun sifat baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak menggunakan akalnya, bisa juga manusia berprilaku seperti binatang, yang hanya hidup untuk kepentingan perutnya saja. Tapi kadang kala manusia lebih buruk dari binatang. Jika binatang hanya memenuhi kebutuhan perutnya hari itu saja. Tetapi manusai tidak, kadang sudah terpenuhi kebutuhan perutnya untuk beberapa tahun ke depan, tetap saja terus menjajah dan merampas sesuatu yang bukan menjadi haknya. Kita tentu tidak ingin seperti binatang, apalagi lebih renda dan parah dari binatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana awal mulanya diri ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Quran dikatakan, bahwa kita hanyalah seonggok jasad yang berasal dari air mani yang hina. Tidak ada satu tanganpun di dunia ini yang mampu menciptakan manusia. Jika kita sadar akan hakikat diri kita, bahwasanya kita adalah makluk yang lemah, jika Allah tidak menolong kita, kita bukanlah apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai manusia! Jika kamu masih dalam keraguan tentang hari berbangkit, maka (pikirkanlah) bahwa Kami menciptakan kamu (dengan proses yang pada mulanya): &lt;br /&gt;a. dari tanah, &lt;br /&gt;b. kemudian dari setetes air mani, &lt;br /&gt;c. kemudian dari segumpal darah (yang membeku), &lt;br /&gt;d. kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiaanya dan (ada pula) yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepadamu (betapa hebatnya ciptaan Kami), &lt;br /&gt;e. kemudian (daging yang segumpal itu) Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak (aturan) Kami sampai waktu yang ditentukan (lebih kurang 9 bulan), &lt;br /&gt;f. kemudian Kami keluarkan kamu (dari rahim ibumu) sebagai bayi, &lt;br /&gt;g. kemudian kamu meningkat dewasa, &lt;br /&gt;h. (kemudian) ada diantara kamu yang diwafatkan (waktu masih kuat bertenaga) dan ada pula sampi tua bangka, sehingga ia tidak ingat apa-apa. Dan (sebagai bukti berbangkit pula) kamu melihat bumi kering gersang, kemudian apabila telah Kami sirami dengan air (hujan), bumi itu hidup dengan subur kembli menumbuhkan beraneka ragam tumbuh-tumbuhan nan indah menawan. (QS. Al-Hajj:5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhya kita dapati diri ini dalam kesesatan dan kejahiliyahan, kemudian Dia beri kita petunjuk. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kegelapan, kemudian Dia beri kita cahaya. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kebingungan, kemudian Dia beri kita jalan keluar. Sesungguhnya kita temui diri ini dalam kelemahan iman, kemudian Dia beri kita keteguhan. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kehinaan dan kerendahan, kemudian Dia beri kita kemuliaan dan izzah serta iffah. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam kebodohan, kemudian Dia beri kita lentera ilmu. Sesungguhnya kita dapati diri ini dalam keadaan telanjang, kemudian Dia beri kita pakaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begitulah proses kelahiran kita, lantas mengapa kita menjadi lupa diri? Menjadi manusia yang tidak tahu diri? Menjadi manusia yang melupakan hakikat penciptaan diri kita, kita hanyalah berasal dari seonggok tanah dan pasti akan kembali ke tanah. Siapun orangnya, rakyat jelata atau pejabat tinggi negara, cantik atau jelek, lahir di barat maupun di timur. Kita terlahir dalam keadaan sama, derajat kita sama di hadapan Allah SWT, Zat yang menciptakan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kita tidak segan menyiksa diri sendiri dengan mengabaikan hak-hak jasad, ruh dan akal. Yang paling sering dilupakan adalah hak ruh. Seperti sebuah tanaman yang tidak pernah disiram, lama-lama akan layu kemudian mati. Begitu pula jika ruh tidak pernah diberi makanan yang bergizi, tidak pernah disuapi vitamin iman, suatu saat akan gersang, dan tidak mustahil kelak akan mati. Bila ruh sudah mati, maka tidak akan ada lagi fungsinya jasad. Jasad akan tinggal seonggok jasad. Kematian ruh adalah awal dari kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita pernah bertanya, “Adakah Allah, dimanakah Allah” jaawabanya singkat sekali, Allah ada dan sangat dekat degan kita. Lebih dekat dari urat nadi kita sekaipun. Dia tidak pernah tidur, tidak akan pula mati. Jika kita kembali kepada hadis yang telah disebutkan di atas, maka pengenalan terhadap diri dan Allah adalah sebuah rangkaian yang tidak bisa dipisahkan, karena menurut hadis tersebut, “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita harus mengenal Allah? Dengan mengenal Allah akan memberikan banyak kebaikan, diantaranya, ketenangan, meningkatkan iman dan taqwa. Pengenalan kita kita dengan Allah akan menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya. Dengan kekuatan cinta itu kita menjalani segal perintah-Nya dan menjauhi segal larangan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara untuk ma’rifat (kenal) dan mahabbah (cinta) kepada Allah.. Diantaranya menurut Dr. Irwan Prayitno dalam buku kepribadian muslimnya adalah dengan akal dan fitrah, pendengaran dan penglihatan, alam semesta, binatang, manusia dan hewan, pengenalan jiwa serta mukzizat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah perjalanan panjang kita dapat melihat alam semesta terbentang indah, tersusun rapi. Siapakan yang membentangkan dan menyusun itu semua. Adalah tangan manusia mampu melakukannya jika tidak ada Zat yang melakukannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak sarana untuk mengenal Allah, hanya saja sejauh mana keinginan kita mengenal kebesaran Allah. Memang Allah tidak mungkin dilihat secara fisik, tetapi kebaradaanya dapat kita rasakan dalam setiap tarikan nafas kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada orang yang mengenal diri kita kecuali kita sendiri ! Apabila kita melihat ke dalam diri dan belum menemukan sesuatu yang sesuai, maka sebenarnya kita sedang mencari identitis Coba renungkan sejenak tentang beberapa hal berikut ini : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana anda datang? &lt;br /&gt;Kemana anda pergi? &lt;br /&gt;Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? &lt;br /&gt;Apakah sebenarnya bahagian dan apakah sebenarnya derita? &lt;br /&gt;Apakah kekuatan anda? &lt;br /&gt;Apakah kelemahan anda? &lt;br /&gt;Apakah cita-cita anda? &lt;br /&gt;Apakah kehendak anda?&lt;br /&gt;Apakah kekuatan andada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mampu menjawabnya, maka dapat dikatakan kita mengenal sepenuhnya diri dan hakikat kehidupan kita. Tapi tidak jarang manusia amat kesulitan menjawab pertanyaan itu. Kita perlu menyediakan waktu sejenak mererungi keberadaan kita, mengenali tidak saja secara fisik diri kita, tetapi juga segala faktor eksternal dan internal diri yang akan menghantarkan kehidupan kita kepada sebuah titik terbaik tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah menganalisis secara jujur perilaku, tabiat dan kepribadian kita. Hati nurani akan berkata jujur. Bila kita temukan kekurangan tidak ada salahnya kita mencoba memperbaiki diri. Bertanya kepada orang lain merupakan langkah yang positif untuk mengenali lebih jauh diri kita. Penilaian kita dan orang lain akan membantu kita menjadi manusia yang mendekati kepada sifat malaikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbaiki dan senantiasa melakukan perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup ini. Karena perubahan tidak selalu memperbaiki sesuatu, tetapi untuk menjadi lebih baik kita mesti berubah. Proses pengenalan diri tidak boleh berhenti pada sebuah titik jenuh. Tidak ada batasan dalam tempat ruang dan waktu. Kenalilah terus diri kita, temukan segala potensi dan kekurangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadari hakikat keberadaan diri kita di dunia. Jika kita memahami itu semua, maka mata hati kita akan mudah terbuka mengenali Rabb yang menciptakan kita.Tidak ada lagi hijab yang aka nmebatasi ruang diskusi kita dengan–Nya. Yang ada adalah bagaimana kesungguhan kita memanfaatkan segala potensi yang ada dan meminimalisir segala kekurangan untuk tetap dekat dengan Allah, mengapai cinta-Nya, bekerja ikhlas untuk-Nya. Insya Allah kehidupan kita tidak akan sia-sia. Kita aka nmenjadi manusia yang produktif, prestatif, inovatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maroji: dari berbagai sumber. &lt;br /&gt;Yesi Elsandra &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kafemuslimah.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/757632179541904076-7288453426918987031?l=nasyid-intertainment.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://nasyid-intertainment.blogspot.com/2009/03/mengenal-lebih-jauh-diri-sendiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Nasyid for dakwah)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_c5hSbW1GAH4/SbifvYY_UXI/AAAAAAAAAQw/E1N2P92OXaE/s72-c/solitude.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item></channel></rss>